Minggu, 24 Juli 2016

Pengertian Jaringan Parenkim dalam Biologi

Pengertian Jaringan Parenkim dalam Biologi

Pengertian Jaringan Parenkim (jaringan dasar) adalah suatu jaringan yang terbentuk dari sel-sel hidup, dengan struktur morfologi dan juga fisiologi yang bervariasi dan masih melakukan segala kegiatan proses fisiologi. Walaupun struktur morfologi dan fisiologinya bermacam-macam, namun pada umumnya dapat dinyatakan bahwa parenkim memiliki sifat-sifat yanga sama.

 
Sel-sel yang menyusun jaringan di atas terdiri dari sel-sel yang bahan-bahannya merupakan zat setengah cairan, sedangkan jaringan-jaringan lain yang terbentuk terlebih dahulu merupakan bahan-bahan yang lebih padat.
 
Jaringan Parenkim biasa disebut sebagai ground tissu atau jaringan dasar, yang berarti bahwa pada hampir setiap bagian tumbuhan akan terdapat jaringan parenkim ini sebagai jaringan dasar, dimana jaringan-jaringan lain terdapat di dalamnya.
 
Secara filogenetis, Jaringan Parenkim dapat dianggap sebagai jaringan-jaringan pada tumbuhan yang tersusunnya merupakan pemula. Sebab kalau kita perhatikan tumbuhan yang primitif, pada tubuhnya hanya terdiri dari sel-sel Parenkim. Jadi sesuai dengan pengertian Parenkim di atas sebagai jaringan dasar (jaringan pemula), demikian juga anggapan bahwa jaringan-jaringan dewasa ada tumbuhan tingkat tinggi berasal dari jaringan Parenkim tersebut.

Jaringan Parenkim terbentuk dari sel-sel parenkim, dengan demikian dapat dikatakan bahwa sel-sel Parenkim itu adalah massa (sel-sel) yang menyebar luas pada seluruh organ dari tumbuhan. Jaringan Parenkim merupakan jaringan heterogen, sebab telah terjadi asosiasi antara sel-sel parenkim yang meluas maka jaringan parenkim umumnya terdapat pada empulur dan korteks batang, akar, mesofil daun, jaringan-jaringan fotosintesis, daging daun serta endosperm biji dan dalam buah.
 



Sumber : 

 – Yayan Sutrian, 2011. Pengantar Anatomi Tumbuh-Tumbuhan (Tentang Sel dan Jaringan). Yang Menerbitkan PT Rineka Cipta : Jakarta.

Gambar Pengertian Jaringan Parenkim Dalam Biologi
Gambar Pengertian Jaringan Parenkim Dalam Biologi

 

Pengertian Membran Sel Dalam Biologi

Pengertian Membran Sel Dalam Biologi

Pengertian Membran Sel atau Membran Plasma adalah struktur selaput tipis yang menyelubungi sebuah sel yang membatasi keberadaan dari sebuah sel, sekaligus juga memelihara perbedaan-perbedaan pokok antara isi sel dengan lingkungannya. Namun membran sel tidak sekedar merupukan sebuah penyekat pasif, akan tetapi juga sebuah filter yang memiliki kemampuan memilih bahan-bahan yang melintasinya dengan tetap memelihara perbedaan kadar ion di luar dan di dalam sel. Dalam hal ini bahan-bahan yang diperlukan oleh sel dapat masuk, sedangkan bahan-bahan yang merupakan limbah sel dapat melintas ke luar sel.

 
Perkembangan pembentukan membran sel merupakan tahapan yang sangat penting dalam terjadinya bentuk kehidupan yang paling awal. Tanpa membran sel, sebuah sel tidak mungkin melangsungkan kehidupannya. Semua membran organisme hidup juga termasuk membran sel dan membran internal sel ekariotik, memiliki susunan umum yang sama, yaitu terdiri dari himpunan melekul lipid dan protein yang terikat secara non-kovalen.
 
Sebelum berhasil diisolasinya membran sel, sebagian besar dari teori tentang struktur membran sel didasarkan atas data yang diperoleh secara tidak langsung. Misalnya pada tahun 1902 Everton mengajukan teorinya mengenai memran sel. Berdasarkan teorinya, Everton mengungkapkan bahwa Pengertian Membran Sel adalah lapisan tipis lipid, kenyataan zat-zat yang larut dalam lipid dapat menembus membran sel. Sedangkan dari beberapa sifat membran sel yang lain, Menurut Danielli diusulkan bahwa membran sel terdiri atas lapisan rangkap lipid yang diapit oleh lapisan protein pada kedua sisinya.
 
Sebelum diajukan teori membran sel, Singer dan Nicolson pada tahun 1972 mengajukan teori-teori tentang struktur membran sel yang dapat disimpulkan dalam 3 kelompok.
1. Teori lembran (leaflet theory), pada dasarnya menyatakan bahwa membran sel tersusun oleh lapisan-lapisan.
2. Teori bola-bola (globular theory), dalam teori ini menyatakan bahwa komponen lipid-protein berbentuk sebagai bola-bola yang tersusun membentuk lembaran.
3. Teori dinamis, teori ini menyatakan bahwa struktur membran sel dapat berbentuk lembaran berlapis dan dapat berubah menjadi susunan bola-bola mengikuti keadaan dan kebutuhannya.
 
 
 
 

Sumber :

– Subowo, 2011. Biologi Sel. Yang Menerbitkan CV Sagung Seto : Jakarta.
Gambar Pengertian Membran Sel Dalam Biologi
Gambar Pengertian Membran Sel Dalam Biologi
 

 

Pengertian Pertumbuhan Tanaman

Pengertian Pertumbuhan :
 
Menurut Webster, Pengertian Pertumbuhan adalah proses penambahan ukuran dan pembesaran sel yang progresif yang mencerminkan pertumbuhan protoplasma.
 
Menurut Harjadi, Pengertian Pertumbuhan Tanaman adalah penambahan tinggi tanaman dan jumlah daun serta berat kering yang tidak dapat kembali ke bentuk semula.
 
Pengertian Pertumbuhan menurut Goldsworthy, Pertumbuhan adalah kenaikan dalam bahan tanaman, suatu proses total yang mengubah bahan mentah secara kimia dan menambahkannya dalam tanaman. Pertumbuhan tanaman terjadi pada tingkat mikroskopik saat sel membesar dan membelah sehingga terjadi pengembangan bagian tanaman yang dapat terlihat.
Dari pengertian pertumbuhan tanaman di atas, dapat disimpulkan bahwa Pengertian Pertumbuhan Tanaman adalah suatu proses penambahan ukuran, penambahan jumlah sel dan penambahan jumlah daun yang tidak akan kembali lagi pada bentuk semulanya.
 
Ukuran suatu pertumbuhan adalah berat bersih. Berat basah atau berat segar suatu tanaman sangat mudah berubah, tergantung pada kadar air yang dikandungnya. Bila jaringan tanaman mengering maka akan kehilangan berat segarnya. Sekitar 90 persen kandungan bahan kering tanaman merupakan hasil dari fotosintesis. Berat kering tanaman juga memberikan suatu dasar untuk mengamati biji karena nilai energi makanan yang berguna bagi manusia adalah biji, umbi atau akar penyimpanan sangat erat hubungannya dengan berat keringnya. Menurut Gastal dan Durand, Pertumbuhan tanaman dihasilkan dari interaksi antara genome dan lingkungan.

| Fase Pertumbuhan Tanaman |

Pertumbuhan tanaman terdiri atas 2 fase, yaitu Fase Vegetatif dan Fase Generatif.
Fase pertumbuhan tanaman vegetatif terutama terjadi pada perkembangan akar, daun dan batang yang baru. Fase vegetatif ini berhubungan dengan 3 proses penting, yaitu : (1) pembelahan sel, (2) Perpanjangan sel, dan (3) tahap pertama dari diferensiasi sel.
Fase pertumbuhan tanaman generatif terjadi pada pembentukan dan perkembangan kuncup-kuncup bunga, buah, bunga dan biji atau pada pembesaran dan pendewasaan struktur penyimpanan makanan, akar-akarnya dan batang yang mempunyai daging. Proses penting yang berlangsung pada fase ini meliputi pembuatan sel-sel yang secara relatif sedikit, penebalan serabut-serabut, pendewasaan jaringan, pembentukan hormon untuk perkembangan kuncup bunga, bunga, buah dan bijinya, pembentukan koloid hidrofilik dan perkembangan alat-alat penyimpanan.
 
Pertumbuhan tanaman dapat dibedakan menjadi 3 fase, yaitu fase perkecambahan, vegetatif dan generatif. Pertumbuhan awal tanaman lebih banyak menggunakan zat-zat cadangan yang berada di dalam batang. Pertumbuhan vegetatif terutama terjadi pada perkembangan akar, daun dan batang. Pertumbuhan generatif terjadi pada pembentukan bunga dan biji. Organ-organ yang mengalami pertumbuhan adalah akar, batang dan daun. Pertumbuhan tanaman yang cepat dan lebat mempengaruhi kadar bahan kering, umumnya pertumbuhan yang cepat pada musim hujan selalu diikuti dengan penurunan kadar bahan kering, sedangkan kadar protein agak meninggi.
 
Menurut Sitompul dan Guritno, pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor genetik akan mempengaruhi proses fisiologi tanaman, sedangkan faktor lingkungan dipengaruhi oleh temperatur, kadar air tanah dan unsur hara. Faktor lingkungan yang paling mempengaruhi pertumbuhan tanaman yaitu : (1) Tanah yang memberi unsur hara dan kelembaban, (2) energi penyinaran dalam bentuk panas dan cahaya, dan (3) Udara yang mengakibatkan karbondioksida dan oksigen.
 
 
 
 

Sumber :

– Endang Dwi Purbajanti, 2013. Rumput dan Legum : Sebagai Hijauan Makanan Ternak. Penerbit Graha Ilmu : Yogyakarta.
Gambar Pengertian Pertumbuhan Tanaman
Gambar Pengertian Pertumbuhan Tanaman
 

Pengertian Sel Dalam Biologi

Pengertian Sel Dalam Biologi

Menurut Robert Hooke, Pengertian Sel adalah unit-unit kecil yang dibatasi oleh dinding-dinding pada jaringan gabus. Selanjutnya Hooke menemukan adanya sel-sel pada jaringan lain di tanaman dan rongga-rongga sel-sel hidup yang dipenuhi oleh cairan (sekarang dikenal sebagai plasma sel). Hal itulah yang kemudian menjadi dasar dari konsep sel yang menyatakan bahwa, Pengertian sel ialah elemen yang universal dari struktur dan fungsi organik makhluk hidup.
 
Menurut Salisbury dan Ross, Pengertian sel adalah unit kehidupan yang paling mendasar, di mana tidak ada lagi kehidupan pada unit yang lebih kecil daripada sel. Semua organisme hidup terdiri atas sel, baik prokariotik maupun eukariotik. Setiap sel merupakan hasil dari pembelahan sel-sel yang telah ada sebelumnya.
 
Sel Prokariotik ialah sel yang tidak memiliki inti yang jelas. Inti sel prokariotik hanya berupa suatu organel sentral yang disebut nukleoid yang dikelilingi oleh sitoplasma, bukan oleh membran inti. Disamping itu, organel-organel lain pada sel-sel prokariotik pun tidak memiliki membran seperti halnya pada sel-sel eukariotik. Semua tanaman tingkat tinggi terdiri atas sel-sel Eukariotik, sedangkan bakteri, gangganng biru-hijau dan mikoplasma merupakan organisme dengan tipe sel prokariotik.
 
Dijelaskan oleh Salisbury dan Ross bahwa Pada sel tumbuhan terdapat 3 ciri pokok yang membedakannya dari sel hewan. Perbedaan tersebut terletak pada dinding sel, vakuola dan plastida, terutama kloroplas. Sel sel hewan tidak memiliki dinding, tidak seperti sel tumbuhan. Vakuola pada sel tumbuhan berukuran lebih besar daripada sel hewan dan terletak di tengah-tengah sel. Sementara itu kloroplas terdapat pada sel tumbuhan, namun tidak pada sel hewan.
 
 
 

Sumber : 

 

– Zulkarnain, 2009. Kultur Jaringan Tanaman. Yang Menerbitkan PT Bumi Aksara: Jakarta.
 
 
 
Gambar Pengertian Sel Dalam Biologi

Pengertian Tanah dan Klasifikasi Tanah

Pengertian Tanah dan Klasifikasi Tanah

 

Pengertian Tanah menurut pakar pertanian adalah medium alam tempat tumbuhnya tumbuhan dan tanaman yang tersusun dari bahan-bahan padat, gas dan cair. Bahan penyusun tanah dapat dibedakan atas partikel meneral, bahan organik, jasad hidup, air dan gas.

Fungsi Tanah untuk kehidupan tanaman, sebagai berikut :
1. Fungsi tanah, sebagai tempat berdiri tegak dan bertumpunya tanaman.
2. Fungsi tanah, sebagai tempat tumbuh yang menyediakan unsur hara dan pertukaran unsur hara antara tanaman dengan tanah.
3. Fungsi tanah, sebagai penyediaan dan gudangnya air bagi tanaman.
Tanah terbentuk dari pecahan-pecahan batuan induk yang berlangsung secara terus-menerus akibat faktor-faktor lingkungan. Faktor-faktor lingkungan ini, yaitu iklim, organisme, topografi dan waktu. Pecahan dari batuan induk itu berlangsung akibat pelapukan dan penghancuran yang terjadi melalui proses-proses biologi, fisika dan kimia.

Proses pelapukan fisika antara lain : desintegrasi akibat temperatur, air, angin dan makhluk hidup atau desintegrasi akibat cuaca yang membekukan. Proses pelapukan kimia ini meliputi perubahan kimia dari bahan induk melalui berbagai macam proses seperti oksidasi, hidratasi dan karbonasi. Proses pelapukan biologi berlangsung akibat eksudat-eksudat mikroba tanah dan akar tumbuhan yang mempunyai kemampuan merombak bahan organik menjadi bahan anorganik atau mentransformasi bahan-bahan anorganik.
 

Klasifikasi Tanah

Bedasarkan Klasifikasinya tanah dapat dibagi menurut kelasnya, sebagai berikut :
 
a. Tanah Kelas 1 (Warna Hijau)
Tanah kelas 1 dapat dipergunakan untuk segala jenis penggunaan pertanian tanpa memerlukan tindakan pengawetan tanah yang khusus. Jenis tanah ini datar, dalam bertekstur halus atau sedang, mudah diolah dan respons terhadap pemupukan. Tidak mempunyai faktor penghambat atau ancaman kerusakan dan oleh karenanya dapat dijadikan lahan tanaman semusim dengan aman.
 
b. Tanah Kelas 2 (Warna Kuning)
Tanah kelas 2 dapat dipergunakan untuk segala jenis penggunaan pertanian dengan sedikit faktor penghambat. Jenis tanah ini agak berlereng landai, kedalamannya dalam dan bertekstur halus sampai agak halus. Dalam hal ini diperlukan sedikit usaha konservasi tanah.
c. Tanah Kelas 3 (Warna Merah)
Tanah kelas 3 dapat dipergunakan untuk segala jenis penggunaan pertanian dengan hambatan lebih besar dari jenis tanah kelas 2, sehingga memerlukan tindakan pengawasan khusus dalam pengelolaannya. Jenis tanah ini terdapat pada tempat yang agak miring atau drainase buruk, memiliki kedalaman sedang, atau permeabilitasnya agak cepat. Jenis tanah ini masih memerlukan suatu tindakan pengawetan tanah khusus, seperti pembuatan teras, penanaman dalam strip, pergiliran tanaman penutup tanah dengan waktu untuk tanaman tersebut lebih lama.

d. Tanah Kelas 4 (Warna Biru)
Tanah kelas 4 dapat dipergunakan untuk segala jenis penggunaan pertanian dengan hambatan dan ancaman kerusakan yang lebih besar dari jenis tanah kelas 3, sehingga memerlukan tindakan khusus dan pengawetan tanah yang lebih berat dan lebih terbatas. Penggunaannya terbatas untuk tanaman semusim. Tanah ini terletak pada lereng yang miring 15%-30% atau berdrainase buruk atau kedalaman dangkal. Jika digunakan untuk menanam tanaman semusim diperlukan pembuatan teras dan pergiliran tanaman lebih kurang 3-5 tahun.
 
e. Tanah Kelas 5 (Warna Hijau Tua)
Tanah kelas 5 ini tidak sesuai untuk digarap bagi tanaman semusim, tetapi akan lebih sesuai untuk tanaman makanan ternak secara permanen atau dihutankan. Jenis tanah ini terdapat pada daerah yang datar atau agak cekung tergenang air atau terlalu bayak batu di atas permukaannya ataupun terdapat liat masam (cat clay) di dekat atau pada daerah perakaran.
 
f. Tanah Kelas 6 (Warna Oranye)
Tanah kelas 6 tidak sesuai untuk digarap bagi usaha tani tanaman yang semusim, disebabkan karena terletak pada lereng yang agak curam (30%-45%) sehingga mudah tererosi, atau kedalamannya agak dangkal atau telah mengalami erosi berat. Tanah jenis ini lebih tepat dijadikan padang rumput atau dihutankan. Jika digarap untuk tanaman semusim diperlukan pengawetan tanah yang agak berat.
 
g. Tanah Kelas 7 (Warna Coklat)
Tanah kelas 7 sama sekali tidak sesuai untuk digarap menjadi usaha tani tanaman semusim. Dianjurkan untuk menanam vegetasi permanen atau tanaman yang keras. Jenis tanah ini terdapat pada daerah yang berlereng yang curam (45%-65%) dan tanahnya dangkal atau telah mengalami erosi berat. Jika dijadikan hutan atau padang rumput harus hati-hati karena sangat peka erosi.
 
h. Tanah Kelas 8 (Warna Putih)
Tanah kelas 8 tidak sesuai untuk usaha produksi pertanian dan harus dibiarkan pada keadaan alami atau hutan lindun. Tanah ini lebih cocok untuk cagar alam atau hutan lindung. Jenis tanah ini terdapat pada tempat yang memiliki kecuraman lebih 90%. Permukaan tanah ini ditutupi oleh batuan lepas atau batuan ungkapan atau tanah yang berstruktur kasar.
 
 
 
 

Sumber:

– Hasan Basri Jumin, 2005. Dasar-dasar Agronomi. Yang Menerbitkan PT Raja Grafindo Persada : Jakarta.

 

Pengertian dan Manfaat Pupuk Kompos

Pengertian dan Manfaat Pupuk Kompos

Pengertian Kompos atau Pupuk Kompos adalah salah satu pupuk organik buatan manusia yang dibuat dari proses pembusukan sisa-sisa bahan organik (tanaman maupun hewan). Proses pengomposan dapat berlangsung secara aerobik dan anaerobik yang saling menunjang pada kondisi lingkungan tertentu. Proses ini disebut juga dekomposisi atau penguraian.
 
Proses pembuatan kompos sebenarnya meniru proses terbentuknya humus di alam. Namun dengan cara merekayasa kondisi lingkungan, Kompos dapat dipercepat proses pembuatannya, yaitu hanya dalam jangka waktu 30-90 hati. Waktu ini melebihi kecepatan terbentuknya humus secara alami. Oleh karena tu, kompos selalu tersedia sewaktu-waktu diperlukan tanpa harus menunggu bertahun-tahun lamanya.
 
| Manfaat Kompos |
 
Berbicara mengenai manfaat kompos, maka manfaat kompos sebagai berikut :
 
1. Manfaat Kompos Bagi Tanah
Manfaat kompos yang utama pada tanah yaitu untuk memperbaiki kondisi fisik tanah dibandingkan untuk menyediakan unsur hara, walaupun dalam kompos unsur hara sudah ada tetapi jumlahnya sedikit. Pupuk kompos berperan dalam menjaga fungsi tanah agar unsur hara dalam tanah mudah dimanfaatkan oleh tanaman.
 
Cara terbaik memanfaatkan kompos adalah mengembalikan kompos tersebut pada tanaman yang bersangkutan. Sebagai contoh, daun-daunan dan ranting pohon mangga yang gugut di tanah dikembalikan lagi ke pohon mangga dengan cara ditimbun dalam tanah dekat pohon mangga agar menjadi kompos dan dapat dimanfaatkan. Dengan cara ini saja tidaklah cukup untuk menyediakan unsur hara bagi pohon mangga. Untuk itu perlu masukkan lain yang lebih banyak dengan cara memanfaatkan kotoran hewan, sampah dapur atau pun bahan-bahan organik lainnya dari luar yang diproses menjadi kompos.
2. Manfaat Kompos Bagi Tanaman
 
Kompos sangat bermanfaat bagi proses pertumbuhan tanaman. Kompos tidak hanya mensuplai unsur hara bagi tanaman, selain itu kompos juga memperbaiki struktur tanah kering dan ladang serta menjaga fungsi tanah, sehingga suatu tanaman dapat tumbuh dengan baik.
 
a. Manfaat kompos menyediakan unsur hara bagi tanaman
Unsur hara yang diperlukan oleh tanaman dibagi menjadi tiga golongan. Unsur hara makro primer yaitu unsur hara yang dibutuhkan dalam jumlah banyak seperti Nitrogen (N), Pospo (P) dan Kalium (K). Unsur hara makro sekunder yaitu unsur hara yang dibutuhkan dalam jumlah kecil, seperti belerang (S), kalsium (Ca) dan magnesium (Mg). Unsur hara mikro yaitu unsur hara yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit, seperti besi (Fe), tembaga (Cu), seng (Zn), klor (Cl), boron (B), mangan (Mn) dan molibdenum (Mo).
Kompos yang sudah jadi dapat digunakan untuk memupuk tanaman, dimana mengandung sebagian besar unsur hara makro primer, makro sekunder dan unsur hara mikro yang sangat dibutuhkan tanaman.
 
b. Manfaat kompos memperbaiki struktur tanah
Tanah yang baik adalah tanah yang remah atau granuler yang mempunyai tata ruang udara yang baik sehingga aliran udara dan air dapat masuk dengan baik. Tanah yang buruk ialah apabila butir-butir tanah tidak melekat satu sama lain (tanah pasir) atau saling melekat (tanah liat).
Kompos merupakan perekat pada butir-butir tanah dan mampu menjadi penyeimbang tingkat kerekatan pada tanah. Kehadiran kompos pada tanah juga menjadi daya tarik bagi mikroorganisme untuk melakukan aktivitas pada tanah. Dengan demikian tanah yang pada mulanya keras dan sulit ditembus air maupun udara, kini dapat menjadi gembur kembali akibat aktivitas mikroorganisme.
 
c. Manfaat kompos dapat meningkatkan Kapasitas Tukar Kation
Kapasitas tukar kation (KTK) adalah sifat kimia yang berkaitan erat dengan kesuburan tanah. Tanah dengan KTK tinggi jauh lebih mampu menyediakan unsur hara daripada tanah KTK rendah. Pupuk kompos dapat menyediakan KTK dalam jumlah yang lebih tinggi dibandingkan dengan pupuk organik.
 
d. Manfaat kompos meningkatkan kemampuan tanah untuk menahan air
Tanah yang bercampur dengan bahan organik seperti kompos mempunyai pori-pori dengan daya rekat yang lebih baik, sehingga kompos mampu mengikat serta menahan ketersediaan air di dalam tanah. Erosi air secara langsung dapat ditahan dengan adanya kompos pada tanah.
 
e. Manfaat kompos meningkatkan aktivitas biologi tanah
Pada kompos terdapat mikroorganisme yang menguntungkan tanaman. Dalam tanah, Kompos akan membantu kehidupan mikroorganisme. Selain berisi bakteri dan jamur pengurai, keberadaan kompos akan membuat tanah menjadi sejuk tidak terlalu lembab dan tidak terlalu kering.
Keadaan seperti itu sangat disenangi oleh mikroorganisme. Dalam hal ini misalnya, cacing tanah lebih senang tinggal di tanah dengan kadar organik tinggi daripada tanah yang keras atau berpasir. Cacing tanah dapat menyediakan pupuk alami berupa kascing yang bermanfaat bagi tanaman.
 
f. Manfaat kompos meningkatkan pH pada tanah asam
Unsur hara dalam tanah lebih mudah diserap oleh tanaman pada kondisi pH tanah yang netral, yaitu 7. Pada nilai pH ini, unsur hara menjadi mudah larut di dalam air. Semakin asam kondisi tanah (semakin rendah pH) maka jumlah ion Al (alumunium) dan Mn (Mangan) dalam tanah semakin meningkat. Jumlah Al dan Mn yang terlalu banyak akan bersifat racun bagi tanaman.
Kondisi tanah yang asam dapat dinetralkan kembali dengan pengapuran. Pemberian kompos ternyata membantu peningkatan pH tanah.
 
g. Manfaat kompos menyediakan unsur mikro bagi tanaman
Tidak hanya unsur makro saja yang disediakan oleh kompos untuk tanaman, tetapi juga unsur mikro. Unsur-unsur itu antara lain Zn, Mn, Cu, Fe dan Mo.
 
 
 
 

Sumber :

– Lafran Habibi, 2009. Pembuatan Pupuk Kompos Dari Limbah Rumah Tangga. Penerbit Titian Ilmu : Bandung.

 

Pengertian dan Sejarah Perencanaan Tata Guna Lahan

Pengertian Perencanaan Tata Guna Lahan adalah suatu bentuk aktivitas yang telah berlangsung lama sepanjang sejarah peradaban manusia. Bentuk perencanaan sangat beragam, mulai dari yang paling sederhana hingga yang sangat kompleks dan menerapkan berbagai pendekatan yang multi-konsep.
Perencanaan tata guna lahan sering dipertukarkan dengan istilah perencanaan penggunaan lahan; karena pada dasarnya memiliki pengertian yang sama. Dalam berbagai literatur, kedua istilah ini disebut land use planning. Sedikit perbedaan keduanya hanya terletak pada penekanan pada ruang (space). Tata guna lahan secara implisit mengandung pengertian ruang di dalamnya, karena terkait dengan tata guna : penataan atau pengaturan penggunaan, baik dalam konteks ruang maupun waktu. Sementara, penggunaan lahan tidak ditekankan seperti itu. Dengan demikian, perencanaan tata guna lahan juga memiliki relevansi dan bahkan sama dengan pengertian perencanaan tata ruang (spatial planning).
Definisi perencanaan tata guna lahan perlu dilihat secara koprehensif, dari sisi perencanaan, tata guna dan lahan. Secara umum, perencanaan dapat didefinisikan sebagai proses menyiapkan dan membuat sekumpulan keputusan untuk tindakan-tindakan di masa depan yang diarahkan untuk mencapai tujuan melalui usaha optimal. Keputusan dan tindakan dilakukan terhadap upaya tata guna (menata penggunaan) yang diinginkan (berdasarkan pertimbangan yang ditetapkan) mengenai lahan, baik pada rentang waktu pendek (saat ini) maupun pada masa yang akan datang.
Pengertian Tata Guna Lahan adalah wujud dalam ruang di alam mengenai bagaimana penggunaan lahan tertata, baik secara alami maupun direncanakan. Dari sisi pengertian perencanaan sebagai suatu intervensi manusia, maka lahan secara alami dapat terus berkembang tanpa harus ada penataan melalui suatu intervensi. Sedangkan pada keadaan yang direncanakan, tata guna lahan akan terus berkembang sesuai dengan upaya perwujudan pola dan struktur ruang pada jangka waktu yang ditetapkan. FAO (tahun 1993) memandang perencanaan tata guna lahan (land use planning) dari sisi intervensi dalam memberikan dorongan dan bantuan pada pengguna lahan (land users) dalam menata lahan.
Penekanan terhadap kata “perencanaan” adalah adanya intervensi, baik dari sisi kebijakan yang diperkuat oleh pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi, maupun aktivitas sosial ekonomi yang terorganisasi secara baik. Di sinilah prinsip dan teknik penataan dan zonasi itu diperlukan, melalui pertimbangan efisiensi, ekuitas (equity), dan keberkelanjutan (sustainability).
Dari Penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut.
Pengertian Tata Guna Lahan adalah aktivitas penilaian secara sistematis terhadap potensi lahan (dan termasuk air), dalam rangka untuk memilih, mengadopsi, dan menentukan pilihan penggunaan lahan terbaik dalam ruang berdasarkan potensi dan kondisi biofisik, ekonomi dan sosial untuk meningkatkan produktivitas dan ekuitas, dan menjaga kelestarian lingkungan.
Dalam konteks perencanaan yang rasional-komprehensif, rencana tata guna lahan perlu didukung oleh informasi yang tepat, akurat dan terpercaya sehingga metode-metode analisis dan teori-teori serta prinsip-prinsip saintifik dapat digunakan secara efektif. Di sini dikenal adanya perencanaan tata guna lahan rasional. Menurut Van Lier and de Wrachien, Perencanaan Tata Guna Lahan Rasional adalah perencanaan yang mengoptimalkan penggunaan dan pengelolaan keseimbangan antara pengembangan dan perlindungan serta pelestarian lingkungan, melalui optimalisasi pemanfaatan data, metode dan prinsip-prinsip saintifik.
Karena komplekitas masalah yang terus dihadapi, istilah perencanaan tata guna lahan yang telah berkembang di beberapa negara kemudian berkembang lagi menjadi perencanaan tata ruang (spatial planning) dengan lingkup yang lebih luas : darat, laut dan udara. Namun, dalam prinsip penataan pada dasarnya kedua sistem perencanaan tersebut adalah sama.
Sejarah Perkembangan Perencanaan Tata Guna Lahan dan pengelolaan ruang dalam suatu wilayah pada hakekatnya dimulai dari pembuatan peta mengenai lahan atau ruang wilayah dengan lingkup yang dibatasi dan ini dapat ditelusuri kembali melalui kebudayaan kuno dari Mesopotamia dan Mesir.
Peta wilayah yang pertama adalah yang digambar pada suatu lempengan liat (clay tablet) pada tahun 2500 SM, yang hingga saat ini masih tersimpan di Semitic betapa pentingnya memahami pengelolaan ruang termasuk bagaimana mengarahkan aktivitas manusia dan pergerakan dalam ruang. Bahan peta yang dijadikan sebagai dasar memahami ruang, masih menggunakan gundukan tanah liat, tumpukan kerikil dan alur alur kecil yang diberi tongkat (stick), untuk menggambarkan hubungan hubungan spasial tata guna lahan seperti bukit, lokasi pemukiman, pusat aktivitas, kebun buah, tempat-tempat istirahat petani, jalur kendaraan gerobak pengangkut buah dan lain sebagainya.
| Sejarah Perkembangan Perencanaan Tata Guna Lahan |
Dalam perkembangan peradaban, dorongan atas keinginan menguasai ruang atau lahan di permukaan bumi terus meninggkat melalui penatagunaan lahan. Pada tahun 168 SM, Cina (pada era Dinasti Han) mengembangkan peta topografi dan peta tematik berbahan kain sutra (Karena kerta belum ada) untuk menginventarisasi kekayaan sumber daya alam dan aset kerajaan, termasuk instalasi militernya. Pada saat itu peta tata guna lahan pada lempengan liat pun telah ada, dan bahwa saat itu ada “zonasi lahan”. Cina dengan peradabannya yang tinggi mengembangkan simbol-simbol yang menggambarkan potensi dan kekuatan wilayahnya pada lembaran-lembaran kain sutra.
Pada tahun 1100 Masehi, terjadi suatu revolusi besar di bidang pemetaan , dimana seorang geografer terkenal islam Al-Idrisi untuk mengetahui gambaran ruang bumi ini untuk wilayah-wilayah Arab dan Mediteranian. Peta (atlas) tersebut menjadi sangat terkenal. Nama Al-Idrisi ini kemudian dipakai oleh The Clark University (Amerika Serikat) sebagai nama software atau program IDRISI untuk pengolahan citra satelit dan manajemen data dan analisis spasial yang cukup terkenal di dunia akademik saat ini. Gambaran ruang melalui peta-peta “tua” tersebut di atas merupakan petunjuk awal dari pentingnya informasi ruang dan rencana tata guna lahan (ruang) dalam pengelolaan sumber daya suatu wilayah.
Ilmu pemetaan untuk pengelolaan ruang terus berkembang dan kemudian pada tahun 1524 diterbitkan buku Cosmographia oleh Apianus (1495 sampai 1554). Dalam buku tersebut dimuat sistem Proyeksi Apianus yang merupakan proyeksi sterografik dan berbagai instruments dalam pengukuran lahan. Teknik pengukuran dan proyeksi tersebut mendasari berbagai teknik pengukuran lahan secara modern yang saat ini digunakan dalam berbagai survei dan pemetaan sumber daya lahan suatu wilayah. Evolusi di bidang instrument survey dan pemetaan terus berlangsung sejalan dengan kebutuhan dan upaya manusia dan kerajaan-kerajaan saat itu untuk menguasai sumber daya alam wilayah melalui inventarisasi.
Pada tahun 1830, teknologi penatagunaan lahan (khususnya melalui teknik-teknik kartografi) dan pemikiran-pemikiran dasar yang berhubungan dengan sumber daya alam dan lingkungan mulai berkembangan di Eropa untuk mendukung tahap-tahap baru dari pemetaan tematik sumber daya lahan. Saat itu dunia mengalami perubahan ekonomi pada revolusi industri dengan munculnya industri-industri pabrik yang membutuhkan bahan mentah dan tenaga kerja secara besar-besaran. Tentu saja ini menciptakan suatu kebutuhan infrastruktur baru dan perkembangan, sehingga perencanaan transportasi juga berkembang pesat. Pada tahun 1837, dilakukan suatu studi transportasi dalam hubungannya dengan pusat-pusat industri yang menyatukan bidang ilmu keteknikan, sosial dan sains sehubungan dengan analisis data spaial secara komprehensif. Hasilnya adalah berupa “atlas to Accompany the Second Report of the Irish Railway Commissioners“, yang muncul pada tahun 1838. Atlas tersebut terdiri dari suatu seri peta dasar yang seragam, yang menggambarkan populasi, jalur kendaraan, geologi, topografi dan tata guna lahan.
Di era modern perkembangan ilmu ruang untuk perencanaan begitu cepat karena ditunjang oleh teknologi komputer. Dalam buku berjudul Design with Nature ileh Ian McHarg (1969) dimuat konsep dari analisis kesesuaian atau kemampuan lahan (land suitability or capability analysis, disingkat SCA). SCA tersebut merupakan suatu teknik di mana data penggunaan lahan dalam suatu areal yang dipelajari diinput ke dalam suatu GIS (geographic information systems) analog dan digital, untuk mendapatkan informasi kesesuaian dan kemampuan lahan. Program SCA tersebut selanjutnya digunakan untuk mengembangkan model deterministik, supaya dapat diproduksi suatu peta perencanaan umum. Jika model tersebut diimplementasikan secara tepat, dan data yang benar-benar sesuai tersedia, peta ini akan lebih konsisten dengan kelas penggunaan lahan yang ada dan faktor pembatas baik oleh alam maupun kultural (budidaya). Design with Nature bukan merupakan pekerjaan akhir, melainkan “semi-final”, yang mempengaruhi penggunaan teknik-teknik overlai dari lembaran data spasial tereferensi dalam perencanaan tata guna lahan dan proses pengelolaan keputusan. Upaya-upaya McHarg dalam SCA telah diikuti oleh banyak studi dalam bidang yang sama pada masa-masa berikutnya.
Pada era modern, perencanaan tata guna lahan mulai dibantu oleh perangkat teknologi informasi geospasial, seperti penginderaan jauh dan geographic information system (GIS). Sistem yang pertama pada era modern yang dapat dianggap sebagai suatu GIS dalam membantu inventarisasi sumber daya lahan adalah “Canada Geographic Information System” atau CGIS. Roger Tomlinson (1982), yang juga terlibat dalam perancangan dan pengembangan sisem tersebut mengemukakan bahwa CGIS secara khusus dirancang untuk Rehabilitasi Pertanian dan Program Pembangunan Agensi dalam tubuh pemerintah Canada. Sasaran utama CGIS adalah untuk menganalisis data inventarisasi lahan Kanada, yang pada awalnya dikumpulkan untuk menemukan lahan-lahan marginal. Dalam konteks yang lebih luas, GIS pertama dikembangkan untuk membantu memecahkan masalah-masalah lingkungan; rehabilitasi dan pengembangan lahan-lahan pertanian Kanada. CGIS secara penuh diimplementasikan pada tahun 1964 atau setahun setelah konferensi pertama mengenai Sistem dan Program Informasi Perencanaan Perkotaan (Urban Planning Information System and Programs), yaitu suatu konferensi yang telah melahirkan Urban and Regional Information Systems Association.
Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi seperti sekarang, penatagunaan lahan yang rasional akan lebih terbantukan dalam hal memaksimalkan prosedur-prosedur yang baku pada berbagai skala perencanaan.
 

Sumber :
– Sumbangan Baja, 2012. Perencanaan Tata Guna Lahan Dalam Pengembangan Wilayah : Pendekatan Spasial & Aplikasinya. Penerbit Andi Offset : Yogyakarta.