Selasa, 22 Maret 2016

Mengenal Makna Atau Maksud Dari Gurindam 12


Mengenal Makna Atau Maksud Dari Gurindam 12


Yang punya tugas sekolah untuk mengetahui makna atau maksud dari setiap fasal gurindam ini bisa lihat disini. Disini sudah saya sertakan, penjelasan dan maksud dari setiap fasal gurindam 12.
Gurindam secara sederhana memiliki arti sebagai sebuah puisi. Gurindam 12 adalah sekumpulan syair yang diciptakan oleh Raja Ali Haji di Pulau Penyengat. Adapun beliau adalah seorang sastrawan di Kepulauan Riau pada masanya dan diakui sebagai salah satu Pahlawan Nasional.
Mengenai sebab-sebab Raja Ali Haji menciptakan gurindam adalah sebagai mas kawin yang diberikan kepada Engku Puteri Hamidah yang tinggal di Pulau Penyengat. Mas kawin ini dipahatkan di batu marmer sebagai bukti rasa cintanya.
Dalam kata-kata yang termaktub di gurindam tersebut sangat kental sekali nuansa keislaman, dikarenakan gurindam tersebut memang berisi wejangan maupun nasehat yang sangat berguna dan bersifat universal bagi masyarakat, khususnya masyarakat dimana Raja Ali Haji itu tinggal, yaitu masyarakat Melayu. Hal ini dimungkinkan karena dominannya unsur Islam dalam kehidupan bermasyarakat di kebudayaan Melayu sebagai dampak dari lancarnya proses Islamisasi di wilayah tersebut, khususnya kepulauan Riau.
Dari bahasa yang di bentuk menjadi sebuah kata lalu menjadi kalimat yang mempunyai makna yang terkandung di dalamnya dan Ciri-Ciri yang Terkandung Dalam Gurindam 12
1. Rangkap
Di dalam setiap pasal di Gurindam mempunyai dua baris dalam serangkap atau beberapa baris dalam serangkap. Setiap baris ke baris di dalam gurindam 12 membawa makna yang lengkap dan saling berkesinambungan antara baris pertama terhadap baris berikutnya. Baris pertama biasanya dikenali sebagai “syarat” dan baris kedua sebagai “jawab”. Baris pertama atau “syarat” menyatakan suatu pikiran atau peristiwa sedangkan baris kedua atau “jawab” menyatakan keterangan atau menjelaskan apa yang telah dinyatakan oleh baris atau ayat pertama tadi
2. Perkataan
Jumlah perkataan sebaris tidak tetap.
3. Suku Kata
Jumlah suku kata tidak tetap.
4. Rima
Rima akhir tidak tetap.
5. Maksud dari setiap pasal gurindam

B. PENDAPAT-PENDAPAT
·       Dalam bukunya yang berjudul puisi lama St. takdir Alisyahbana memberikan keterangan tentang gurindam sebagai berikut: Gurindam biasanya terjadi dari sebuah kalimat majemuk, yang di bagi menjadi 2 baris bersajak.
·       Dr. J.S Badudu, dalam bukunya sari kesustraan Indonesia menjelaskan bahwa gurindam sebenarnya merupakan sebuah kalimat yang terbagi 2 dengan akhir baris berirama sama.
Gurindam termasuk ke dalam puisi lama yang banyak terdapat dalam masyarakat Melayu Indonesia. Gurindam yang terkenal adalah Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji (1809-1872). Gurindam ini dinamakan Gurindam Dua Belas karena gurindam tersebut terdiri dari dua belas pasal. Hampir semua lariknya mempunyai rima yang sama dalam satu bait.
C.MAKNA SETIAP PASAL
Pasal Pertama (1) Gurindam 12
Makna yang terkandung dalam Pasal Pertama
“ Memberi nasihat tentang agama (religius) ”
Barang siapa tiada memegang agama
Sekali-kali tiada boleh dibilang nama

·       Maksudnya adalah setiap manusia harus memiliki agama karena agama sangat penting bagi kehidupan manusia, orang yang tidak mempunyai agama akan buta arah menjalankan hidupnya.
Barang siapa mengenal yang empat
Maka yaitulah orang yang ma’rifat

  •  Untuk mencapai kesempurnaan didalam menjalani hidup, manusia harus mengenal empat zat yang menjadikan manusia mula-mula. 4 tersebut adalah syari’at, tarikat, hakikat dan makrifat.
Barang siapa mengenal Allah SWT
Suruh dan tegaknya tiada ia menyalah

  • Orang yang mengenal Allah SWT, harus melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, tidak akan melanggar aturannya
Barang siapa mengenal diri
Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri

  • Orang yang tidak beragama tidak akan memiliki identitas diri dan tidak akan dekat dengan Allah SWT.
Barang siapa mengenal dunia
Tahulah ia barang yang terpedaya

  • Kita dapat mengetahui kebesaran Allah lewat manusia, makhluk ciptaan-Nya yang paling sempurna. Manusia yang berorientasi pada kebahagiaan atau hanya mencari kebahagiaan di dunia saja, sebenarnya ia akan tertipu dan menyadarinya bahwa di dunia itu hanya sesaat
Barang siapa mengenal akhirat
Tahulah ia dunia mudharat

  • Di dunia ini kita hanya hidup sesaat, setelah kita wafat setiap manusia akan dimintakan pertanggung jawabannya di akhirat nanti.

Pasal Kedua (2) Gurindam 12
Makna Yang Terkandung dalam PasaL Kedua
“ menceritakan tentang orang – orang yang meninggalkan Sembahyang, Puasa, Zakat, dan Haji beserta akibatnya
Barang siapa mengenal yang tersebut
Tahulah ia makna takut

  • Semakin seorang dekat dan mengetahui tentang agamanya pasti manusia tersebut akan takut dan orang tersebut harus menjalani Perintah-perintah-Nya dan wajib kita laksanakan
Barang siapa meninggalkan sembahyang
Seperti rumah tiada bertiang

  • Orang yang tidak sembahyang bagaikan rumah yang tidak mempunyai tiang, shalat merupakan pegangan hidup.
Barang siapa meninggalkan puasa
Tidaklah mendapat dua termasa

  • Orang yang meninggalkan ibadah puasa akan kehilangan dunia dan akhirat, berarti Allah tidak akan menjaga orang itu.
Barang siapa meninggalkan zakat
Tiadalah hartanya beroleh berkat

  • Harta dari orang yang tidak membayar zakat tidak diridhai oleh Allah. Itupun jika di dunia hidupnya senang apabila tidak memberikan sebagian harta nya maka, hidupnya tidak akan terasa senang.
Barang siapa meninggalkan haji
Tiadalah ia menyempurnakan janji

  • Orang yang tidak naik haji (apalagi jika ia mampu) tidak menyempurnakan janjinya sebagai orang Islam.

Pasal Ketiga (3) Gurindam 12
Makna yang terkandung dalam Pasal Ketiga
“ tentang budi pekerti, yaitu menahan kata-kata yang tidak perlu dan makan seperlunya ”
Apabila terpelihara mata
Sedikitlah cita-cita

  • Mata harus di pergunakan sebaik-baiknya jangan sampai kita meliahat apa yang dilarang oleh allah swt
Apabila terpelihara kuping
Khabar yang jahat tiadalah damping

  • Telinga harus dijauhkan dari segala macam bentuk gunjingan dan hasutan
Apabila terpelihara lidah
Niscaya dapat daripadanya faedah

  • Orang yang menjaga omongannya akan mendapatkan manfaat.
Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan
Daripada segala berat dan ringan

  • Jangan mengambil barang yang bukan hak kita
Apabila perut terlalu penuh
Keluarlah fi’il yang tidak senonoh

  • Nafsu harus dijaga supaya tidak melakukan perbuatan yang dilarang
Anggota tengah hendaklah ingat
Di situlah banyak orang yang hilang semangat

  • Hidup harus dijalani penuh semangat
Hendaklah peliharakan kaki
Daripada berjalan yang membawa rugi

  • Jangan merugikan diri dengan melakukan hal-hal yang mubajir dan maksiat. Melangkahlah dijalan yang benar dan di ridhoi

Pasal keempat (4) Gurindam 12
Makna yang terkandung dalam Pasal Keempat
“tentang tabiat yang mulia, yang muncul dari hati (nurani) dan akal pikiran (budi) ”
Hati itu kerajaan di dalam tubuh
Jikalau zalim segala anggota tubuh pun rubuh

  • Jagalah hati dari perbuatan yang di larang oleh agama
Apabila dengki sudah bertanah
Datanglah daripadanya beberapa anak panah

  • Hati yang dengki hanya akan merugikan diri sendiri
Mengumpat dam memuji hendaklah pikir
Di situlah banyak orang yang tergelincir

  • Berbicara harus dipikir supaya tidak celaka karenanya
Pekerjaan marah jangan dibela
Nanti hilang akal di kepala

  • Amarah adalah perbuatan sia-sia, jaga lah amarah kita
Jika sedikitpun berbuat bohong
Boleh diumpamakan mulutnya itu pekung

  • Orang yang pernah berbohong, sedikit apa pun dustanya, akan terus tampak di mata orang lain
Tanda orang yang amat celaka
Aib dirinya tiada ia sangka

  • Orang yang paling celaka adalah orang yang tidak menyadari kesalahannya sendiri sampai harus dikatakan oleh orang lain
Bakhil jangan diberi singgah
Itulah perompak yang amat gagah

  • Sifat pelit akan menguras hartanya sendiri, berarti dengan menjadi dermawan justru harta kita akan bertambah
Barang siapa yang sudah besar
Janganlah kelakuannya membuat kasar

  • Jagalah setiap perbuatan kita
Barang siapa perkataan kotor
Mulutnya itu umpama ketor

  • Kelakuan dan kata-kata hendaklah selalu halus dan bersih.
Di manakah salah diri
Jika tidak orang lain yang berperi

  • Jika kita berbuat kesalahan kita harus minta maaf
Pekerjaan takbur jangan direpih
Sebelum mati didapat juga sepih

  • Jangan mengambil pekerjaan yang haram
Pasal Kelima (5) Gurindam 12
Makna yang Terkandung dalam Pasak Kelima
“ tentang pentingnya pendidikan dan memperluas pergaulan dengan kaum terpelajar ”
Jika hendak mengenal orang berbangsa
Lihat kepada budi dan bahasa

  •  Orang yang mulia dan berbangsa dapat kita lihat dari perilaku dan tutur katanya
Jika hendak mengenal orang yang berbahagia
Sangat memeliharakan yang sia-sia

  • Orang yang bahagia adalah orang yang berhemat dan tidak melakukan perbuatan yang sia-sia
Jika hendak mengenal orang mulia
Lihatlah kepada kelakuan dia

  • Untuk mengetahui apakah orang itu mulia maka lihatlah sikapnya
Jika hendak mengenal orang yang berilmu
Bertanya dan belajar tiadalah jemu

  • Orang yang pandai tidak pernah jemu untuk belajar dan memetik pelajaran dari hidupnya di dunia
Jika hendak mengenal orang yang berakal
Di dalam dunia mengambil bekal

  • Orang yang berakal adalah orang yang teleh mempersipkan bekal waktu hidp di dunia ini
Jika hendak mengenal orang yang baik perangai
Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai

  • Jika ingin mengetahui sift baik dari seseorang maka lihatlah saat di bergaul dengan masyarakat
Pasal Keenam (6) Gurindam 12
Makna Yang Terkandung dalam Pasal Keenam
“ tentang pergaulan, yang menyarankan untuk mencari sahabat yang baik, demikian pula guru sejati yang dapat mengajarkan mana yang baik dan buruk ”
Cahari olehmu akan sahabat
Yang boleh dijadikan obat

  • sahabat yang setia dan dapat membantu kita
Cahari olehmu akan guru
Yang boleh tahukan tiap seteru

  • Carilah guru yang serba tahu dan tidak menyembunyikan hal-hal buruk
Cahari olehmu akan isteri
Yang boleh menyerahkan diri

  • Istri yang patut diambil adalah istri yang berbakti
Cahari olehmu akan kawan
Pilih segala orang yang setiawan

  • Carilah teman yang setia diasaat kita senang maupun susah
Cahari olehmu akan abdi
Yang ada baik sedikit budi

  • Pengikut, pembantu, budak yang baik untuk diambil adalah abdi yang berbudi.

Pasal Ketujuh (7) Gurindam 12
Makna yang terkandung dalam Pasal Ketujuh
“ berisi nasihat agar orang tua membangun akhlak dan budi pekerti anak-anaknya sejak kecil dengan sebaik mungkin. Jika tidak, kelak orang tua yang akan repot sendiri”
Apabila banyak berkata-kata
Di situlah jalan masuk dusta

  • Orang yang banyak bicara memperbesar kemungkinan berdusta
Apabila banyak berlebih-lebihan suka
Itu tanda hampirkan duka

  • Terlalu mengharapkan sesuatu akan menimbulkan kekecewaan yang mendalam saat sesuatu itu tidak seperti yang diharapkan
Apabila kita kurang siasat
Itulah tanda pekerjaan hendak sesat

  • Setiap pekerjaan harus ada persiapannya
Apabila anak tidak dilatih
Jika besar bapanya letih

  • Anak yang tidak di didik semasa kecilnya akan menyebabkan saat anak itu sudah tumbuh dewasa akan membangkan orang tua
Apabila banyak mencacat orang
Itulah tanda dirinya kurang

  • Jangan suka menghina orang lain
Apabila orang yang banyak tidur
Sia-sia sajalah umur

  • Pergunakan lah waktu sebaik-baiknya
Apabila mendengar akan kabar
Menerimanya itu hendaklah sabar

  • Jika menerima kabar duka atau kabar yang kurang menyenangkan maka kita harus sabar dan menerima dengan lapang dada
Apabila mendengar akan aduan
Membicarakannya itu hendaklah cemburuan

  • Jangan mudah terpengaruh akan omongan orang lain
Apabila perkataan yang lemah lembut
Lekaslah segala orang mengikut

  • Perkataan yang lemah-lembut akan lebih didengar orang daripada perkataan yang kasar
Apabila perkataan yang amat kasar
Lekaslah orang sekalian gusar

  • Perkataan orang yang kasar membuat orang yang berada didekatnya resah
Apabila pekerjaan yang amat benar
Tidak boleh orang berbuat onar

  • Orang yang benar jangan disalahkan (difitnah atau dikambinghitamkan).

P asal Kedelapan (8) Gurindam 12
Makna yang Terkandung dalam Pasal Kedelapan
“ berisi nasihat agar orang tidak percaya pada orang yang culas dan tidak berprasangka buruk terhadap seseorang ”
Barang siapa khianat akan dirinya
Apalagi kepada lainnya

  • Orang yang ingkar dan aniaya terhadap dirinya sendiri tidak dapat dipercaya
Kepada dirinya ia aniaya
Orang itu jangan engkau percaya

  • jangan percaya terhadap orang yang suka menganiyaya orang lain
Lidah suka membenarkan dirinya
Daripada yang lain dapat kesalahannya

  • Jangan suka menyalahkan orang lain, dan mengganggpa bahwa diri kita paling benar
Daripada memuji diri hendaklah sabar
Biar daripada orang datangnya kabar

  • Pujian tidak usah dibuat sendiri tapi tunggulah datangnya dari orang lain
Orang yang suka menampakkan jasa
Setengah daripadanya syirik mengaku kuasa

  • Jangan menginginkan imbalan dari setiap jasa yang telah kita perbuat
Kejahatan diri disembunyikan
Kebajikan diri diamkan

  • Sifat-sifat jelek dalam diri kita jangan ditampakkan, begitu pula kebaikan-kebaikan yang telah kita perbuat
Ke’aiban orang jangan dibuka
Ke’aiban diri hendaklah sangka

  • Jangan membuka aib atau keburukan dari orang lain, kesalahan diri sendiri harus disadar
Pasal ke Sembilan (9) Gurindam 12
Makna Yang Terkandung dalam Pasal Kesembilan
“ berisi nasihat tentang moral pergaulan pria wanita dan tentang pendidikan. Hendaknya dalam pergaulan antara pria wanita ada pengendalian diri dan setiap orang selalu rajin beribadah agar kuat imannya ”
Tahu pekerjaan tak baik tetapi dikerjakan
Bukannya manusia yaitulah syaitan

  • Manusia yang sudah mengetahui bahwa pekerjaan yang di larang oleh allah swt, maka manusia tersebut tidak dapat di katakan manusia
Kejahatan seorang perempuan tua
Itulah iblis punya penggawa

  • Kejahatan seorang perempuan tua bagaikan pimpinan setan
Kepada segala hamba-hamba raja
Di situlah syaitan tempatnya manja

  • Jangan engkau tergoda akan kekayaan pada raja
Kebanyakan orang yang muda-muda
Di situlah syaitan tempat bergoda

  • Semasa muda jagalah iman kita jangan sampai tergoda oleh rayuan setan
Perkumpulan laki-laki dengan perempuan
Di situlah syaitan punya jamuan

  • Jika terdapat seorang lelaki dan seorang perempuan maka disitu pulalah setan berada untuk menggangu iman orang tersebut
Adapun orang tua yang hemat
Syaitan tak suka membuat sahabat

  • Orang yang semasa mudanya tidak menyia-nyiakan waktu dan selalu melangkah di jalan allah swt, maka setan akan menjauhi orang tersebut
Jika orang muda kuat berguru
Dengan syaitan jadi berseteru

  • orang muda yang gemar belajar dijauhi oleh setan.

Pasal ke Sepuluh (10) Gurindam 12
Makna yang Terkandung dalam Pasal Kesepuluh
“ berisi nasihat keagamaan dan budi pekerti, yaitu kewajiban anak untuk menghormati orang tuanya ”
Dengan bapak jangan durhaka
Supaya Allah tidak murka

  • Jangan durharka terhadap bapa
Dengan ibu hendaklah hormat
Supaya badan dapat selamat

  • Setiap anak harus hormat dan patuh terhadap ibunya karena surga di telapak kaki ibu dan ibu mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan anaknya
Dengan anak janganlah lalai
Supaya boleh naik ke tengah balai

  • Jagalah anak karena anak merupakan titipan tuhan
Dengan kawan hendaklah adil
Supaya tangannya jadi kapil

  • Bersikap adilah sesama teman

Pasal ke-11 (sebelas) Gurindam 12
Adapun mengenai pemaknaan gurindam tersebut, bait pertama
“Hendaklah berjasa kepada yang sebangsa”

Makna dari kalimat tersebut adalah himbauan kepada manusia untuk selalu bisa bermanfaat kepada sesama, sebab dalam Islam memang sangat dianjurkan sekali untuk saling memberikan manfaat, seperti misalnya dalam sebuah hadis, “seorang muslim adalah saudara bagi orang islam yang lain, yang tidak akan menganiayanya, tidak akan membiarkannya (ataupun menyerahkannya kepada musuhnya). Barangsiapa menyampaikan hajat (kepentingan) saudaranya, maka Allah akan mengabulkan hajat orang itu. Barang siapa yang memberikan kemudahan bagi seorang muslim yang sedang kesulitan, maka Allah akan memberikan kemudahan padanya ketika kesulitan pada Hari Kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi rahasia seorang muslim, maka Allah akan menutupi baginya rahasianya pada Hari Kiamat.” (HR. Muslim).


Untuk makna dari bait kedua gurindam pasal kesebelas
“Hendaklah jadi kepala, buang perangai yang cela”
Sangat erat kaitannya dengan kepemimpinan dalam Islam yang sangat mengutamakan akhlak yang mulia. Bukankah Rasulullah memiliki sifat-sifat terbaik dan jauh dari sifat yang tercela, yaitu Fathanah, Amanah, Shiddiq, dan Tabligh. Sehingga seorang pemimpin (kepala) hendaklah memiliki rasa tanggung jawab dan menjauhi akhlak yang tercela, “Kamu semua dalah pemimpin, dan kamu semua akan ditanya (bertanggungjawab) atas pimpinannya. Maka imam adalah pemimpin yang bertanggungjawab terhadap rakyatnya. Dan seorang suami adalah pemimpin terhadap keluarganya dan akan ditanya tentang pimpinannya. Dan seorang isteri adalah pemimpin pada rumah tangga suaminya maupun anak anaknya dan bertanggungjawab terhadap pimpinannya. Seorang anak menjadi pemimpin terhadap ayahnya dan bertanggungjawab terhadap apa yang telah dipimpinnya.. Dan seorang pelayan adalah pemimpin terhadap harta tuannya dan bertanggungjawaab atas pimpinannya. Maka kamu semua adalah pemimpin dan kamu semua adalah bertanggungjawab terhadap rakyat (hasil pimpinannya, anak buahnya, pekerjaanya)” (HR. Bukhari)

Kemudian bait yang ketiga

Hendaklah memegang amanat, buanglah khianat

Dapat direnungkan sebagai upaya agar menjadi orang yang terpercaya, sebagaimana dalam sebuah hadis, “Laksanakanlah amanat(kewajiban) pada orang yang mempercayakan diri padamu, dan janganlah berkhianat (menipu) pada orang yang menipumu” (HR. Turmudzi)

Untuk bait yang keempat

Hendak marah dahulukan hajat

Dalam sebuah hadis, riwayat Abu Daud disebutkan, “Barangsiapa yang menahan kemarahan, padahal dia sanggup untuk melepaskan kemarahan itu, maka Allah akan memenuhi hati orang itu berupa keamanan dan keimanan” (HR. Abu Daud)
Secara sederhana berati ini sebuah nasehat bahwa marah itu adalah sesuatu yang tidak baik dan dianjurkan untuk melaksanakan hajat misalnya silaturrahim, bertadabur alam, rihlah ataupun yang sejenisnya untuk mengurangi rasa marah itu dan mensyukuri nikmat yang telah
Allah berikan kepada manusia.

Bait yang kelima

Hendak dimulai jangan melalui

Maksud dari bait ini adalah bahwa sebagala sesuatu perlu awal untuk dimulai

Bait keenam
Hendak ramai, muliakan perangai
Bait ini sangat berkaitan dengan akhlak yang baik. Artinya jika seseorang ingin mendapatkan sesuatu ataupun silaturrahimnya semakin dipermudah oleh Allah, maka salah satu jalannya adalah dengan memperbaiki perangai (tingkah laku/akhlak), “Tidak ada sesuatu yang lebih memperberat timbangan pahala kebaikan (pada Hari Kiamat) kecuali budi pekerti (akhlak) yang baik” (HR. Abu Daud)
Makna yang trkandung dalam Pasal sebelas
“ berisi nasihat kepada para pemimpin agar menghindari tindakan yang tercela, berusaha melaksanakan amanat anak buah dalam tugasnya, serta tidak berkhianat ”
Hendaklah berjasa
Kepada yang sebangsa

  • Berjasalah bagi negara dan bangsa, optimalkan setiap kemampuan yang kita punya sehingga kita bisa mengharumkan nama bangsa
Hendak jadi kepala
Buang perangai yang cela

  • Jadilah pemimpin yang tidak mempunyai sikap tercela
Hendaklah memegang amanat
Buanglah khianat


Semoga bermanfaat, :D

UPDATE Gurindam 12 Pasal 12 
Saya tidak tahu berapa banyak komentar yang menanyakan mengenai pasal 12 nya yang hilang namun tenang saja, kini sudah muncul pasal 12 nya, walaupun ini hanya sementara..
Pasal ke Duabelas (12) Gurindam 12
Raja mufakat dengan menteri
Seperti kebun berpagarkan duri
• Hubungan raja dengan menteri adalah saling menjaga satu sama lain, dan harus bekerjasama
Betul hati kepada raja
Tanda jadi sebarang kerja
• Raja yang baik atau raja yang mendapat petunjuk dari Allah adalah raja yang adil terhadap rakyatnya
Hukum adil atas rakyat
Tanda raja beroleh inayat
• Hukum harus didasari oleh hak asasi manusia
Kasihkan orang yang berilmu
Tanda rahmat atas dirimu
• Orang yang berilmu akan dikaruniai oleh Allah dan dihormati orang lain
Hormat akan orang yang pandai
Tanda mengenal kasa dan cindai
• Hormatilah setiap manusia
Ingatkan dirinya mati
Itulah asal berbuat bakti
• Bila manusia mengingat kematiannya nanti, ia akan lebih berbakti pada Allah
Akhirat itu terlalu nyata
Kepada hati yang tidak buta
• . Orang yang tidak buta hatinya tahu kalau akhirat itu benar-benar ada.

Sejarah Gurindam Dua Belas

Sejarah Gurindam Dua Belas

A. Gurindam
Kata gurindam berasal dari bahasa Tamil (kirindam) yang berarti “umpama”. Gurindam sendiri berada di tanah melayu melalui proses perdagangan yang dibawa oleh orang orang tamil yang hendak berdagang di Indonesia. Gurindam adalah suatu bentuk puisi Melayu lama yang terdiri dari dua baris kalimat dengan irama akhir yang sama dan merupakan satu kesatuan yang utuh. Gurindam biasanya terdiri dari dua kalimat yang dibagi menjadi dua baris yang bersajak. Tiap-tiap baris tersebut merupakan sebuah kalimat majemuk yang merupakan induk dan anak kalimat.
Gurindam memiliki ciri-ciri tertentu, yaitu:
1. Rangkap
Gurindam memiliki dua atau beberapa baris dalam satu bait. Setiap baris memiliki isi atau maksud dan bersambung dengan baris rangkap selanjutnya, sehingga membentuk satu makna yang lengkap. Baris pertama berisi syarat dan baris kedua berisi jawaban dari “syarat” baris pertama.
2. Perkataan dan Suku Kata
Jumlah kata-kata tiap baris dan suku kata tidak terbatas.

3. Rima
Rima akhir tidak tetap. Tetapi sering kita temukan (didalam Gurindam Dua Belas memiliki rima yang terdengar sama)
B. Pengarang Gurindam 12
Raja Ali Haji adalah pengarang dari sebuah karya yang sangat terkenal, yaitu Gurindam Dua Belas. Raja Ali Haji diperkirakan hidup antara tahun 1808—1873. Ia adalah seorang bangsawan, sastrawan, sejarawan, budayawan, ulama, dll. Ayahnya, Raja Ahmad, adalah seorang penasihat Kerajaan dan ibunya, Encik Hamidah binti Panglima Selangor, adalah putri Raja Selangor. Sedangkan kakeknya bernama Raja Haji Fisabillih. Berbagai ilmu, seperti agama Islam, adat-istiadat, dan bahasa Melayu dan Arab, telah dipelajari oleh Raja Ali Haji. Bakatnya yang menonjol adalah menulis dan ia sangat berminat pada bidang sejarah, adat-istiadat, pemerintahan, dan syair.
Setelah dewasa, Raja Ali Haji menuangkan semua yang diketahuinya ke dalam tulisan –tulisan yang isinya beragam. Karyanya antara lain Gurindam Dua Belas, Kitab Pengetahuan Bahasa, Bustanulkatibin (Taman para penulis), Tsamarat al Muhimmah (ajaran yang berguna), Tuhfat al Nafis (Hadiah yang berharga), Silsilah Melayu dan Bugis, Syair suluh Pegawai, Syair Siti Sianah, Syair Sinar Gemala Mestika Alam. Gurindam Dua Belas termasuk dalam salah salah satu karya sastra puisi lama yang sangat terkenal hingga sekarang. Tetapi, kemunculan karya sastra gurindam mulai tersingkirkan perlahan-lahan sekitar tahun 1998-2000an, Hal ini disebabkan muncul karya sastra puisi baru atau modern yang lebih mendominasi perhatian masyarakat.

C. Gambaran Umum tentang Gurindam Dua Belas
1. Sejarah
Gurindam termasuk ke dalam puisi lama Indonesia yang terdapat dalam masyarakat Melayu. Gurindam yang terkenal adalah Gurindam Dua Belas yang dikarang oleh Raja Ali Haji (1809-1872). Dinamakan Gurindam Dua Belas dikarenakan memiliki dua belas pasal. Gurindam Dua Belas memiliki keistimewaan yaitu karya sastra yang mampu tegak sendiri tanpa kawan. Raja Ali Haji mneyebutkan arti gurindam tersebut di dalam pengantar karyanya. Di dalam pengantar itu juga disebutkan tanggal, manfaat, dan perbedaan gurindam dengan syair.
“Inilah Gurindam Dua Belas Namanya”

Segala puji bagi Tuhan seru sekalian alam serta shalawatkan Nabi

yang akhirul zaman serta keluarganya dan sahabatnya sekalian adanya

Amm ba’du daripada itu maka tatkala sampailah hijratun Nabi 1263

Sannah kepada dua puluh tiga hari bulan Rajab hari Selasa maka

Diilhamkan Allah Ta’ala kepada kita yaitu Raja Ali Haji mengarang

satu gurindam cara Melayu yaitu yang boleh juga diambil faedah

Sedikit-sedikit perkataannya itu pada orang yang ada

menaruh akal maka adalah banyaknya gurindam itu hanya dua belas pasal di dalamnya

Syahdan

adalah beda antara gurindam dengan syair itu aku nyatakan pula

Bermula arti syair melayu iaitu perkataan yang bersajak serupa

dua berpasang pada akhirnya dan tiada berkehendak pada sempurna

perkataan pada satu-satu pasangnya bersalahan dengan gurindam

Adapun gurindam itu iaitu perkataan yang bersajak juga pada akhir

pasangannya tetapi sempurna perkataannya dengan satu pasangan sahaja

Jadilah seperti saja yang pertama itu syarat dan syair sajak yang

kedua itu jadi seperti jawab

Bermula inilah rupa syairnya
Dari pengantar gurindam tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa gurindam Dua Belas memiliki ajaran dan tuntunan moral yang berlandaskan agama Islam, selain itu, Gurindam Dua Belas juga menjadi wadah untuk Raja Ali Haji melakukan syiar Islam.
Raja Ali haji menulis Gurindam Dua Belas berdasarkan pengalaman dan pengetahuannya. Kumpulan pasal-pasal dalam Gurindam Dua Belas ini berisi tentang ibadah, kewajiban raja,, kewajiban anak, kewajiban orang tua, budi pekerti luhur, dan hidup dalam bermasyarakat. Sesuai dengan prinsip gurindam, yaitu larik pertama adalah “syarat” sedangkan larik kedua merupakan “jawab”, larik kedua pada Gurindam Dua Belas menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada seseorang apabila seseorang masuk ke dalam kondisi pada larik pertama. Apabila banyak mencela orang, itulah tanda dirinya kurang berarti bila seseorang berada dalam kondisi sering (banyak) mencela orang lain, berarti ia adalah orang yang kurang baik atau memiliki cacat yang sebenarnya pantas dicela. Gurindam Dua Belas menggunakan Bahasa Melayu yang merupakan dasar dari Bahasa Indonesia.

2. Irama
Gurindam Dua Belas memiliki nilai-nilai yang sangat tinggi. Baik dari nilai pendidikan, nilai agama, nilai sosial, nilai moral serta nilai seni. Jika kita melihat dari nilai seni, Gurindam Dua Belas sering dibawakan dengan iringan lagu-lagu bernuansa khas melayu. Setiap pasal disenandungkan dengan irama yang berbeda-beda. Tapi, muncul kerancuan mengenai irama yang dibawakan ketika membacakan Gurindam Dua Belas pasal dua belas. Banyak masyarakat yang sering menggunakan irama yang sama sehingga muncullah pemikiran masyarakat yang mengatakan bahwa irama Gurindam Dua Belas pasal dua belas harus menggunakan irama tersebut. Seolah-seolah irama tersebut merupakan irama yang wajib untuk dinyanyikan. Sebenarnya, hal ini tidak benar. Karena setiap irama yang digunakan utnuk membawakan Gurindam Dua Belas adalah bebas, asalkan memiliki aturan-aturan yang baik, intonasi yang tepat.
D. Makna
1. Makna Yang Terkandung Dalam Pasal Pertama
  • Barang siapa tiada memegang agama
  • Sekali-kali tiada boleh dibilang nama
Maksudnya adalah setiap manusia harus memiliki agama karena agama sangat penting bagi kehidupan manusia, orang yang tidak mempunyai agama akan buta arah menjalankan hidupnya.
  • Barang siapa mengenal yang empat
  • Maka yaitulah orang yang ma’rifat

Untuk mencapai kesempurnaan didalam menjalani hidup, manusia harus mengenal empat zat yang menjadikan manusia mula-mula. 4 tersebut adalah syari’at, tarikat, hakikat dan makrifat.
  • Barang siapa mengenal Allah SWT
  • Suruh dan tegaknya tiada ia menyalah

Orang yang mengenal Allah SWT, harus melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, tidak akan melanggar aturannya
  • Barang siapa mengenal diri
  • Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri
Orang yang tidak beragama tidak akan memiliki identitas diri dan tidak akan dekat dengan Allah SWT.
  • Barang siapa mengenal dunia
  • Tahulah ia barang yang terpedaya
Kita dapat mengetahui kebesaran Allah lewat manusia, makhluk ciptaan-Nya yang paling sempurna. Manusia yang berorientasi pada kebahagiaan atau hanya mencari kebahagiaan di dunia saja, sebenarnya ia akan tertipu dan menyadarinya bahwa di dunia itu hanya sesaat
  • Barang siapa mengenal akhirat
  • Tahulah ia dunia mudharat
Di dunia ini kita hanya hidup sesaat, setelah kita wafat setiap manusia akan dimintakan pertanggung jawabannya di akhirat nanti.
2. Makna yang terkandung dalam Pasal Kedua
Menceritakan tentang orang – orang yang meninggalkan Sembahyang, Puasa, Zakat, dan Haji beserta akibatnya
  • Barang siapa mengenal yang tersebut
  • Tahulah ia makna takut
Semakin seorang dekat dan mengetahui tentang agamanya pasti manusia tersebut akan takut dan orang tersebut harus menjalani Perintah-perintah-Nya dan wajib kita laksanakan
  • Barang siapa meninggalkan sembahyang
  • Seperti rumah tiada bertiang
Orang yang tidak sembahyang bagaikan rumah yang tidak mempunyai tiang, shalat merupakan pegangan hidup.
  • Barang siapa meninggalkan puasa
  • Tidaklah mendapat dua termasa
Orang yang meninggalkan ibadah puasa akan kehilangan dunia dan akhirat, berarti Allah tidak akan menjaga orang itu.
  • Barang siapa meninggalkan zakat
  • Tiadalah hartanya beroleh berkat
Harta dari orang yang tidak membayar zakat tidak diridhai oleh Allah. Itupun jika di dunia hidupnya senang apabila tidak memberikan sebagian harta nya maka, hidupnya tidak akan terasa senang.
  • Barang siapa meninggalkan haji
  • Tiadalah ia menyempurnakan janji
Orang yang tidak naik haji (apalagi jika ia mampu) tidak menyempurnakan janjinya sebagai orang Islam.
3. Makna Yang Terkandung Dalam Pasal Ketiga
Tentang budi pekerti, yaitu menahan kata-kata yang tidak perlu dan makan seperlunya
  • Apabila terpelihara mata
  • Sedikitlah cita-cita
Mata harus di pergunakan sebaik-baiknya jangan sampai kita meliahat apa yang dilarang oleh ALLAH S.W.T
  • Apabila terpelihara kuping
  • Khabar yang jahat tiadalah damping
Telinga harus dijauhkan dari segala macam bentuk gunjingan dan hasutan
  • Apabila terpelihara lidah
  • Niscaya dapat daripadanya faedah
Orang yang menjaga omongannya akan mendapatkan manfaat.
  • Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan
  • Daripada segala berat dan ringan
Jangan mengambil barang yang bukan hak kita
  • Apabila perut terlalu penuh
  • Keluarlah fi’il yang tidak senonoh
Nafsu harus dijaga supaya tidak melakukan perbuatan yang dilarang
  • Anggota tengah hendaklah ingat
  • Di situlah banyak orang yang hilang semangat
Hidup harus dijalani penuh semangat
  • Hendaklah peliharakan kaki
  • Daripada berjalan yang membawa rugi
Jangan merugikan diri dengan melakukan hal-hal yang mubajir dan maksiat. Melangkahlah dijalan yang benar dan di ridhoi
4. Makna YangTerkandung Dalam Pasal Keempat
Tentang tabiat yang mulia, yang muncul dari hati (nurani) dan akal pikiran (budi)
  • Hati itu kerajaan di dalam tubuh
  • Jikalau zalim segala anggota tubuh pun rubuh
Jagalah hati dari perbuatan yang di larang oleh agama
  • Apabila dengki sudah bertanah
  • Datanglah daripadanya beberapa anak panah
Hati yang dengki hanya akan merugikan diri sendiri
  • Mengumpat dan memuji hendaklah pikir
  • Di situlah banyak orang yang tergelincir
Berbicara harus dipikir supaya tidak celaka karenanya
  • Pekerjaan marah jangan dibela
  • Nanti hilang akal di kepala
Amarah adalah perbuatan sia-sia, jaga lah amarah kita
  • Jika sedikitpun berbuat bohong
  • Boleh diumpamakan mulutnya itu pekung
Orang yang pernah berbohong, sedikit apa pun dustanya, akan terus tampak di mata orang lain
  • Tanda orang yang amat celaka
  • Aib dirinya tiada ia sangka
Orang yang paling celaka adalah orang yang tidak menyadari kesalahannya sendiri sampai harus dikatakan oleh orang lain
  • Bakhil jangan diberi singgah
  • Itulah perompak yang amat gagah
Sifat pelit akan menguras hartanya sendiri, berarti dengan menjadi dermawan justru harta kita akan bertambah
  • Barang siapa yang sudah besar
  • Janganlah kelakuannya membuat kasar
Jagalah setiap perbuatan kita
  • Barang siapa perkataan kotor
  • Mulutnya itu umpama ketor
Kelakuan dan kata-kata hendaklah selalu halus dan bersih.
  • Di manakah salah diri
  • Jika tidak orang lain yang berperi
Jika kita berbuat kesalahan kita harus minta maaf
  • Pekerjaan takbur jangan direpih
  • Sebelum mati didapat juga sepih
Jangan mengambil pekerjaan yang haram
5. Makna Yang Terkandung Dalam Pasal Kelima

Tentang pentingnya pendidikan dan memperluas pergaulan dengan kaum terpelajar ”
  • Jika hendak mengenal orang berbangsa
  • Lihat kepada budi dan bahasa
Orang yang mulia dan berbangsa dapat kita lihat dari perilaku dan tutur katanya
  • Jika hendak mengenal orang yang berbahagia
  • Sangat memeliharakan yang sia-sia
Orang yang bahagia adalah orang yang berhemat dan tidak melakukan perbuatan yang sia-sia
  • Jika hendak mengenal orang mulia
  • Lihatlah kepada kelakuan dia
Untuk mengetahui apakah orang itu mulia maka lihatlah sikapnya
  • Jika hendak mengenal orang yang berilmu
  • Bertanya dan belajar tiadalah jemu
Orang yang pandai tidak pernah jemu untuk belajar dan memetik pelajaran dari hidupnya di dunia
  • Jika hendak mengenal orang yang berakal
  • Di dalam dunia mengambil bekal
Orang yang berakal adalah orang yang teleh mempersipkan bekal waktu hidup di dunia ini
  • Jika hendak mengenal orang yang baik perangai
  • Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai
Jika ingin mengetahui sift baik dari seseorang maka lihatlah saat di bergaul dengan masyarakat
6. Makna Yang Terkandung Dalam Pasal Keenam
Tentang pergaulan, yang menyarankan untuk mencari sahabat yang baik, demikian pula guru sejati yang dapat mengajarkan mana yang baik dan buruk
  • Cahari olehmu akan sahabat
  • Yang boleh dijadikan obat
sahabat yang setia dan dapat membantu kita
  • Cahari olehmu akan guru
  • Yang boleh tahukan tiap seteru
Carilah guru yang serba tahu dan tidak menyembunyikan hal-hal buruk
  • Cahari olehmu akan isteri
  • Yang boleh menyerahkan diri
Istri yang patut diambil adalah istri yang berbakti
  • Cahari olehmu akan kawan
  • Pilih segala orang yang setiawan
Carilah teman yang setia diasaat kita senang maupun susah
  • Cahari olehmu akan abdi
  • Yang ada baik sedikit budi
Pengikut, pembantu, budak yang baik untuk diambil adalah abdi yang berbudi.
7. Makna Yang Terkandung Dalam Pasal Ketujuh

Berisi nasihat agar orang tua membangun akhlak dan budi pekerti anak-anaknya sejak kecil dengan sebaik mungkin. Jika tidak, kelak orang tua yang akan repot sendiri
  • Apabila banyak berkata-kata
  • Di situlah jalan masuk dusta
Orang yang banyak bicara memperbesar kemungkinan berdusta
  • Apabila banyak berlebih-lebihan suka
  • Itu tanda hampirkan duka
Terlalu mengharapkan sesuatu akan menimbulkan kekecewaan yang mendalam saat sesuatu itu tidak seperti yang diharapkan
  • Apabila kita kurang siasat
  • Itulah tanda pekerjaan hendak sesat
Setiap pekerjaan harus ada persiapannya
  • Apabila anak tidak dilatih
  • Jika besar bapanya letih
Anak yang tidak di didik semasa kecilnya akan menyebabkan saat anak itu sudah tumbuh dewasa akan membangkan orang tua
  • Apabila banyak mencacat orang
  • Itulah tanda dirinya kurang
Jangan suka menghina orang lain
  • Apabila orang yang banyak tidur
  • Sia-sia sajalah umur
Pergunakan lah waktu sebaik-baiknya
  • Apabila mendengar akan kabar
  • Menerimanya itu hendaklah sabar
Jika menerima kabar duka atau kabar yang kurang menyenangkan maka kita harus sabar dan menerima dengan lapang dada
  • Apabila mendengar akan aduan
  • Membicarakannya itu hendaklah cemburuan
Jangan mudah terpengaruh akan omongan orang lain
  • Apabila perkataan yang lemah lembut
  • Lekaslah segala orang mengikut
Perkataan yang lemah-lembut akan lebih didengar orang daripada perkataan yang kasar
  • Apabila perkataan yang amat kasar
  • Lekaslah orang sekalian gusar
Perkataan orang yang kasar membuat orang yang berada didekatnya resah
  • Apabila pekerjaan yang amat benar
  • Tidak boleh orang berbuat onar
Orang yang benar jangan disalahkan (difitnah atau dikambinghitamkan).
8. Makna Yang Terkandung Dalam Pasal Kedelapan

Berisi nasihat agar orang tidak percaya pada orang yang culas dan tidak berprasangka buruk terhadap seseorang
  • Barang siapa khianat akan dirinya
  • Apalagi kepada lainnya
Orang yang ingkar dan aniaya terhadap dirinya sendiri tidak dapat dipercaya
  • Kepada dirinya ia aniaya
  • Orang itu jangan engkau percaya
Jangan percaya terhadap orang yang suka menganiyaya orang lain
  • Lidah suka membenarkan dirinya
  • Daripada yang lain dapat kesalahannya
Jangan suka menyalahkan orang lain, dan mengganggpa bahwa diri kita paling benar
  • Daripada memuji diri hendaklah sabar
  • Biar daripada orang datangnya kabar
Pujian tidak usah dibuat sendiri tapi tunggulah datangnya dari orang lain
  • Orang yang suka menampakkan jasa
  • Setengah daripadanya syirik mengaku kuasa
Jangan menginginkan imbalan dari setiap jasa yang telah kita perbuat
  • Kejahatan diri disembunyikan
  • Kebajikan diri diamkan
Sifat-sifat jelek dalam diri kita jangan ditampakkan, begitu pula kebaikan-kebaikan yang telah kita perbuat
  • Ke’aiban orang jangan dibuka
  • Ke’aiban diri hendaklah sangka
Jangan membuka aib atau keburukan dari orang lain, kesalahan diri sendiri harus disadar
9. Makna Yang Terkandung Dalam Pasal Kesembilan
Berisi nasihat tentang moral pergaulan pria wanita dan tentang pendidikan. Hendaknya dalam pergaulan antara pria wanita ada pengendalian diri dan setiap orang selalu rajin beribadah agar kuat imannya 
  • Tahu pekerjaan tak baik tetapi dikerjakan
  • Bukannya manusia yaitulah syaitan
Manusia yang sudah mengetahui bahwa pekerjaan yang di larang oleh allah swt, maka manusia tersebut tidak dapat di katakan manusia
  • Kejahatan seorang perempuan tua
  • Itulah iblis punya penggawa
Kejahatan seorang perempuan tua bagaikan pimpinan setan
  • Kepada segala hamba-hamba raja
  • Di situlah syaitan tempatnya manja
Jangan engkau tergoda akan kekayaan pada raja
  • Kebanyakan orang yang muda-muda
  • Di situlah syaitan tempat bergoda
Semasa muda jagalah iman kita jangan sampai tergoda oleh rayuan setan
  • Perkumpulan laki-laki dengan perempuan
  • Di situlah syaitan punya jamuan
Jika terdapat seorang lelaki dan seorang perempuan maka disitu pulalah setan berada untuk menggangu iman orang tersebut
  • Adapun orang tua yang hemat
  • Syaitan tak suka membuat sahabat
Orang yang semasa mudanya tidak menyia-nyiakan waktu dan selalu melangkah di jalan allah swt, maka setan akan menjauhi orang tersebut
  • Jika orang muda kuat berguru
  • Dengan syaitan jadi berseteru
Orang muda yang gemar belajar dijauhi oleh setan.
10. Makna Yang Terkandung Dalam Pasal Kesepuluh

Berisi nasihat keagamaan dan budi pekerti yaitu kewajiban anak untuk menghormati orang tuanya
  • Dengan bapak jangan durhaka
  • Supaya Allah tidak murka
Jangan durharka terhadap bapa
  • Dengan ibu hendaklah hormat
  • Supaya badan dapat selamat
Setiap anak harus hormat dan patuh terhadap ibunya karena surga di telapak kaki ibu dan ibu mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan anaknya
  • Dengan anak janganlah lalai
  • Supaya boleh naik ke tengah balai
Jagalah anak karena anak merupakan titipan tuhan
  • Dengan kawan hendaklah adil
  • Supaya tangannya jadi kapil
Bersikap adilah sesama teman
12. Makna yang terkandung dalam Pasal Kesebelas
Bait Pertama :
  • “Hendaklah berjasa kepada yang sebangsa”
Makna dari kalimat tersebut adalah himbauan kepada manusia untuk selalu bisa bermanfaat kepada sesama, sebab dalam Islam memang sangat dianjurkan sekali untuk saling memberikan manfaat, seperti misalnya dalam sebuah hadis, “seorang muslim adalah saudara bagi orang islam yang lain, yang tidak akan menganiayanya, tidak akan membiarkannya (ataupun menyerahkannya kepada musuhnya). Barangsiapa menyampaikan hajat (kepentingan) saudaranya, maka Allah akan mengabulkan hajat orang itu. Barang siapa yang memberikan kemudahan bagi seorang muslim yang sedang kesulitan, maka Allah akan memberikan kemudahan padanya ketika kesulitan pada Hari Kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi rahasia seorang muslim, maka Allah akan menutupi baginya rahasianya pada Hari Kiamat.” (HR. Muslim).
Bait Kedua :
  • “Hendaklah jadi kepala, buang perangai yang cela”
Sangat erat kaitannya dengan kepemimpinan dalam Islam yang sangat mengutamakan akhlak yang mulia. Bukankah Rasulullah memiliki sifat-sifat terbaik dan jauh dari sifat yang tercela, yaitu Fathanah, Amanah, Shiddiq, dan Tabligh. Sehingga seorang pemimpin (kepala) hendaklah memiliki rasa tanggung jawab dan menjauhi akhlak yang tercela, “Kamu semua dalah pemimpin, dan kamu semua akan ditanya (bertanggungjawab) atas pimpinannya. Maka imam adalah pemimpin yang bertanggungjawab terhadap rakyatnya. Dan seorang suami adalah pemimpin terhadap keluarganya dan akan ditanya tentang pimpinannya. Dan seorang isteri adalah pemimpin pada rumah tangga suaminya maupun anak anaknya dan bertanggungjawab terhadap pimpinannya. Seorang anak menjadi pemimpin terhadap ayahnya dan bertanggungjawab terhadap apa yang telah dipimpinnya.. Dan seorang pelayan adalah pemimpin terhadap harta tuannya dan bertanggungjawaab atas pimpinannya. Maka kamu semua adalah pemimpin dan kamu semua adalah bertanggungjawab terhadap rakyat (hasil pimpinannya, anak buahnya, pekerjaanya)” (HR. Bukhari)
Bait Ketiga :
  • "Hendaklah memegang amanat, buanglah khianat"
Dapat direnungkan sebagai upaya agar menjadi orang yang terpercaya, sebagaimana dalam sebuah hadis, “Laksanakanlah amanat(kewajiban) pada orang yang mempercayakan diri padamu, dan janganlah berkhianat (menipu) pada orang yang menipumu” (HR. Turmudzi)
Bait Kempat :
  • "Hendak marah dahulukan hajat"
Dalam sebuah hadis, riwayat Abu Daud disebutkan, “Barangsiapa yang menahan kemarahan, padahal dia sanggup untuk melepaskan kemarahan itu, maka Allah akan memenuhi hati orang itu berupa keamanan dan keimanan” (HR. Abu Daud). Secara sederhana berati ini sebuah nasehat bahwa marah itu adalah sesuatu yang tidak baik dan dianjurkan untuk melaksanakan hajat misalnya silaturrahim, bertadabur alam, rihlah ataupun yang sejenisnya untuk mengurangi rasa marah itu dan mensyukuri nikmat yang telah
Allah berikan kepada manusia.
Bait Kelima :
  • "Hendak dimulai jangan melalui"
Maksud dari bait ini adalah bahwa sebagala sesuatu perlu awal untuk dimulai
Bait Keenam 
  • "Hendak ramai, muliakan perangai"
Bait ini sangat berkaitan dengan akhlak yang baik. Artinya jika seseorang ingin mendapatkan sesuatu ataupun silaturrahimnya semakin dipermudah oleh Allah, maka salah satu jalannya adalah dengan memperbaiki perangai (tingkah laku/akhlak), “Tidak ada sesuatu yang lebih memperberat timbangan pahala kebaikan (pada Hari Kiamat) kecuali budi pekerti (akhlak) yang baik” (HR. Abu Daud)
Makna yang terkandung dalam Pasal sebelas
Berisi nasihat kepada para pemimpin agar menghindari tindakan yang tercela, berusaha melaksanakan amanat anak buah dalam tugasnya, serta tidak berkhianat 
  • Hendaklah berjasa
  • Kepada yang sebangsa
  • Berjasalah bagi negara dan bangsa, optimalkan setiap kemampuan yang kita punya sehingga kita bisa mengharumkan nama bangsa
  • Hendak jadi kepala
  • Buang perangai yang cela
  • Jadilah pemimpin yang tidak mempunyai sikap tercela
  • Hendaklah memegang amanat
  • Buanglah khianat
Makna Yang Terkandung Dalam Pasal Kedua Belas
  • Raja mufakat dengan menteri
  • Seperti kebun berpagarkan duri
Hubungan raja dengan menteri adalah saling menjaga satu sama lain, dan harus bekerjasama
  • Betul hati kepada raja
  • Tanda jadi sebarang kerja
Raja yang baik atau raja yang mendapat petunjuk dari Allah adalah raja yang adil terhadap rakyatnya
  • Hukum adil atas rakyat
  • Tanda raja beroleh inayat
Hukum harus didasari oleh hak asasi manusia 
  • Kasihkan orang yang berilmu
  • Tanda rahmat atas dirimu
Orang yang berilmu akan dikaruniai oleh Allah dan dihormati orang lain
  • Hormat akan orang yang pandai
  • Tanda mengenal kasa dan cindai
Hormatilah setiap manusia
  • Ingatkan dirinya mati
  • Itulah asal berbuat bakti
• Bila manusia mengingat kematiannya nanti, ia akan lebih berbakti pada Allah 
  • Akhirat itu terlalu nyata
  • Kepada hati yang tidak buta
Orang yang tidak buta hatinya tahu kalau akhirat itu benar-benar ada.
Gurindam dapat terkenal hingga sekarang karena memiliki keindahan seni yang dihiasi dengan tuntunan moral, sehingga popular hingga sekarang. Selain itu, isinya yang lebih singkat, padat dapat dengan mudah diterima hingga masyarakat hingga sekarang.

Senin, 21 Maret 2016

ungkapan bahasa melayu dalam natuna

ungkapan bahasa melayu dalam natuna

Mali melanggah kubo
Nandek tebengun kepaleu ayah
Mali melangkah kubur
Nanti terbangun kepala ayah
Manusia adalah salah satu makhluk ciptaan Tuhan (Allah) yang paling tinggi derajadnya. Ketinggian derajad itu ditandai oleh akal yang dimilikinya. Dengan akalnya itulah manusia menumbuh-kembangkan kebudayaan yang berfungsi sebagai acuan untuk menghadapi lingkungannya dalam arti luas. Dalam berinteraksi dengan sesamanya misalnya, dalam hal ini satu dengan lainnya, tidak hanya saling-menghormati ketika seorang manusia masih hidup di dunia. Ketika seseorang mati pun masih dihormatinya. Hal itu tercermin dari ungkapan yang mengkaitkan antara kuburan dan ayah. Ayah, sebagaimana kita tahu, bagi seorang anak adalah “segalanya”. Ia tidak hanya sebagai “pengukir”, tetapi juga sebagai pengarah dan pembimbing yang sejati. Melangkahi kubur dapat diartikan sebagai tidak menghormati kepada orang tuanya (ayahnya). Dengan demikian, nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah nilai kemanusiaan.

Mali maki ughang lah mati
Nandek lah mati kenak sikseu

Mali memaki orang yang sudah mati
Nanti sudah mati kena siksa
Mati artinya menjalani kehidupan lain (akhirat). Agar yang mati dapat mempertanggungjawabkan tentang apa yang dilakukan pada waktu masih hidup (di dunia), maka pesan yang terdapat dalam ungkapan ini adalah semestinya tidak perlu diperbincangkan keburukannya (dimaki) karena hal itu hanya akan menyiksa si mati itu sendiri. Dan, sebagai orang yang beriman tentunya tidak melakukannya. Ungkapan ini, dengan demikian, mengandung nilai keihklasan.

Mali nyikseu kuceng
Nandek maghah Nabi

Mali menyiksa kucing
Nanti marah Nabi
Kucing, sebagaimana halnya manusia, adalah makluk ciptaan Tuhan. Sebagai sesama makluk tentunya harus saling menghargai. Apalagi, kucing sebagaimana kita tahu, adalah binatang kesayangan Nabi Muhammad S.A.W. Menyiksa kucing, dengan demikian dapat diartikan sebagai tidak menghargai sesama makluk hidup dan sekaligus tidak menghormati junjungan kita Nabi Muhammad S.A.W. Jadi, ungkapan ini mempunyai pesan jangan semena-mena terhadap sesama makluk hidup. Ungkapan ini, dengan demikian, mengandung nilai penghormatan, baik kepada sesama makluk hidup maupun junjungan kita Nabi Besar Muhammad S.A.W.

Mali kemeh ngadep kiblet
Nandek benggak butoh

Mali kencing menghadap kiblat
Nanti bengkak kemaluan laki-laki
Kiblat adalah arah yang dituju bagi para muslim untuk bersembahyang. Ini artinya, arah ini sakral. Sehubungan dengan itu, pesan yang ingin disampaikan melalui ungkapan ini adalah sebagai arah yang sakral tentunya tidak pantas untuk dikotori (dikencingi). Dengan demikian, ungkapan ini mengandung nilai kesakralan atau penghormatan terhadap sesuatu yang sakral.

Mali nyipak Al Quran
Nandek tulah

Mali menyepak Al Quran
Nanti bengkak/kembung perut
Al Quran adalah kitab suci orang Islam. Sebagai sesuatu yang suci tentunya harus diperlakukan sebagaimana mestinya dan bukan disepak. Sehubungan dengan itu, pesan yang ingin disampaikan dalam ungkapan ini adalah menyepaknya berarti sama saja tidak menghormati kitab suci dan sekaligus orang Islam. Sehubungan dengan itu, maka ungkapan ini mengandung nilai penghormatan terhadap kitab suci dan sekaligus pemiliknya.

Maki endik puase
Nandek lah mati minom aek lio besek ughang puase

Mali tidak puasa
Nanti mati minum air liur basi orang puasa
Rukun Islam itu ada lima, yakni: mengucap dua kalimat sahadat, sholat, puasa, zakat, dan naik haji. Puasa, dengan demikian, merupakan sesuatu yang wajib dilakukan oleh orang Islam. Pesan yang ingin disampaikan melalui ungkapan ini adalah orang Islam harus berpuasa; sebab kalau tidak, dikemudian hari akan mendapat siksa. Ini diungkapkan sebagai ‘nanti mati minum air liur basi orang puasa”. Dengan demikian, ungkapan ini mengandung nilai kewajiban untuk melakukan sesuatu yang bersifat wajib.

Mali makan petang haghi
Nandek luta lih andu dengen taik

Mali makan petang hari
Nanti dilontar oleh hantu dengan tahi
Petang hari sangat erat kaitannya dengan suasana yang remang-remang. Apa yang ingin disampaikan melalui ungkapan ini adalah makan dalam suasana yang demikian bisa saja akan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. Apalagi, saat-saat yang demikian adalah saat-saat untuk bersiap-siap melakukan solat magrib. Ungkapan ini, dengan demikian, mengandung nilai preventif.

Mali makan tebu petang aghi
Nandek mati mak

Mali makan tebu petang hari
Nanti mati mak
Petang hari, sebagaimana telah disebutkan pada bagian atas, adalah saat-saat pergantian dari siang ke malam. Oleh karena itu, suasananya remang-remang. Makan sesuatu, apalagi tebu yang harus dikupas, tentu saja dapat menimbulkan hal-hal yang tidak ingin (tergores benda tajam). Disamping itu, kulitnya berserakan. Ungkapan ini, dengan demikian, mengandung pesan agar makan sesuatu disesuaikan dengan situasi. Sedangkan, nilai yang terkandung di dalamnya adalah kehati-hatian.

Mali nyenyi petang haghi
Nandek tegigit butoh andu

Mali menyanyi petang hari
Nanti tergigit butuh (zakar) hantu
Petang hari, sebagaimana dikatakan di atas, suasananya remang-remang. Sementara menyanyi dengan sendirinya mengeluarkan suara. Menyanyi itu sendiri tidak dilarang, asal sesuai dengan situasi dan kondisinya. Petang hari, bagi orang muslim, adalah waktunya untuk menunaikan ibadah (sholat) magrib. Oleh karena itu, pada saat-saat seperti ini bukan waktunya untuk menyanyi, tetapi membersihkan diri guna menunaikan sholat magrib. Jadi, pesan ungkapan ini adalah agar seseorang menghormati orang lain yang sedang melakukan sholat. Dengan demikian, nilai yang terkandung di dalamnya adalah toleransi (tenggang rasa).

Mali semeyang delem gelep
Nandek jedi andu

Mali sembahyang dalam gelap
Nanti jadi hantu
Pesan ungkapan ini agar sholat dilakukan sesuai dengan ketentuan yang sudah ditetapkan. Tidak dalam gelap, melainkan di tempat yang terang sehingga sholat dapat dilakukan secara benar. Ini artinya, ungkapan tersebut mengandung nilai ketertiban. Dengan perkataan lain, jangan melakukan sholat secara asal, tetapi sesuai dengan syarat dan rukunnya.

Mali nyughek mende ughang
Nandek lah mati kenak keghat tangan

Mali mencuri benda orang
Nanti lah mati kena kerat tangan
Pesan ungkapan ini agar menjadi amanah, dapat dipercaya, tidak semena-mena terhadap hak orang lain. Dengan demikian, nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah menghormati hak dan atau milik orang lain.

Mali naek cok betang betek
Nandek kenak bughut

Mali naik pucuk (atas) batang betik (pepaya)
Nanti kena burut (bengkak pelir)
Pucuk batang pepaya mudah patah dan karenanya berbahaya untuk dinaiki. Ungkapan ini, dengan demikian, mempunyai pesan agar jangan naik pohon yang mudah patah, khususnya pepaya, karena sesuatu yang tidak diinginkan dapat saja terjadi. Sehubungan dengan itu, maka ungkapan ini mengandung nilai kehatian-hatian.

Mali meludih ughang
Nandek kenak kughap

Mali meludah orang
Nanti kena kurap
Air ludah adalah sesuatu yang menjijikan. Meludahi orang lain berarti menghinanya. Dan, ini dapat membuat yang diludahi menjadi marah, sehingga terjadi keributan. Oleh karena itu, jangan meludahi orang. Dengan demikian, nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah menghargai sesama manusia.

Mali nyipak ughang
Nandek ghundot betes

Mali menyepak orang
Nanti runtut (bengkak) betis
Menyepak (menendang) orang dapat membuat yang disepak marah, sehingga dapat menimbulkan keributan. Oleh karena itu, perbuatan ini tidak patut dilakukan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah menghormati sesamanya.

Mali ngambik mende lah beghik dengan ughang
Nandek bughuk siku

Mali mengambil benda sudah diberi orang
Nanti buruk siku
Mengambil benda yang telah diberikan kepada seseorang dapat membuat yang bersangkutan tersinggung. Oleh karena itu, apa yang diberikan kepada orang lain jangan diminta lagi. Dengan demikian, nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah keikhlasan.

Mali makan beghes mandak
Nandek kenak sakit kuneng

Mali makan beras mentah
Nanti kena sakit kuning
Beras adalah buah yang tidak dapat langsung dimakan sebab keras, sehingga dapat menganggu pencernakan. Ia mesti dimasak lebih dahulu baru dimakan. Oleh karena itu, beras yang masih mentah jangan dimakan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah kesehatan.

Mali duduk cok kupek
Nandek kenak bisol

Mali duduk di atas bantal
Nanti kena bisul
Bantal adalah perlengkapan tidur yang digunakan untuk menahan kepala. Jadi, bukan untuk pantat. Oleh karena itu, duduk di atas bantal tidak diperbolehkan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah penempatan sesuatu sesuai fungsinya.

Mali nungeng tepayan beghes
Nandek laghi semengat

Mali menungging tempayan beras
Nanti lari semengat (keberkahan)
Beras adalah makanan pokok masyarakat Bunguran-Natuna. Sebagai sesuatu yang kemudian dimakan tidak sepantasnya ditunggingi. Oleh karena itu, menungging tempayan beras tidak diperbolehkan karena, walaupun ia merupakan tempat, tetapi ia sangat erat kaitannya dengan makanan, sehingga menunggingi tempayan beras sama saja menunggingi makanan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini adalah memperlakukan sesuatu sebagaimana mestinya.

Mali meka padi
Nandek sumbah lih semengat-e

Mali membakar padi
Nanti disumpah oleh semengatnya (keberkahannya)
Membakar padi sama dengan membunuh diri karena padi yang kemudian menjadi nasi adalah makanan pokok masyarakat Bunguran-Natuna. Di samping itu, padi ada yang “menjaganya”. Oleh karena itu, membakar padi disamping merugikan diri sendiri dan masyarakat, juga dapat membangkitkan kemarahan yang menjaganya. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini, dengan demikian, adalah keselamatan.

Mali makan sambil bejelen
Nandek kujud

Mali makan sambil berjalan
Nanti kujud (tidak pernah cukup)
Makan sambil berjalan menyebabkan sesuatu yang tidak diinginkan. Misalnya, makanan tumpah. Selain itu, makan sambil berjalan dianggap tidak sopan. Oleh karena itu, makan sambil berjalan tidak diperbolehkan. Nilai yang terkandung dalam ungkapan ini, dengan demikian, adalah keselamatan dan kesopanan.
Sumber:
Galba, Sindu dan Sudiono. 2004. Ungkapan Tradisional Masyarakat Melayu-Natuna. Kepulauan Riau: kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI, Deputi Bidang Pelestarian dan Pengembangan Kebudayaan, Asdep Tradisi.
Mali seringkali diartikan sebagai “pantang”, “susah”, “jangan” atau “tidak boleh”. Namun demikian, kata-kata tersebut rasanya tidak pas betul, karena kata mali di dalamnya mengandung kekuatan magis. Sebagai contoh, jika seseorang dilarang dengan menggunakan kata “jangan”, “tidak boleh”, dan lain sebagainya, maka yang bersangkutan akan biasa-biasa saja. Bahkan, mungkin akan melakukan juga. Namun, jika yang didengarnya adalah kata mali, maka yang bersangkutan akan mentaatinya, karena di balik kata itu ada kekuatan magis, yang apabila dilanggarnya, diyakini dapat menyebabkan sesuatu yang tidak diinginkan.

Asal Muasal Kerajaan Natuna

Asal Muasal Kerajaan Natuna

Pada abat ke -7 di belahan Barat Nusantara berdirilah kerajaan Maritim Sriwijaya dengan armada dagang yang menguasai jalur-jalur pelayaran sebelah Utara melalui Laut Cina Selatan, sebelah barat melalui Selat Malaka dan sebelah Timur menguasai Laut Jawa.
Seorang pendeta Cina yang bernama I TSING pada tahun 671 Masehi singgah di Kerajaan Sriwijaya memberitakan tentang perjalanannya ke Sriwijaya dalam bukunya : 
“Ta.t ang yu ku fa kao seng chouan dan nan hai ki ko usi ne chouan” (Footnok)
Diantaranya mengisahkaN perjalanan laut I TSING di laut Cina Selatan telah singgah di Gugusan pulau-pulau, ada yang besar ada yang kecil. Pulau Besar dalam bahasanya disebut NAN TOA, Sedangkan "NAN" berarti Pulau, dan "TOA" berarti Besar, jadi artinya adalah "PULAU BESAR". Bermula dari sebutan "NAN TOA" inilah Sejarah Natuna berawal.
Setelah mengalami pasang surut kerajaan Sriwijaya mundur dan diganti oleh Kerajaan Majapahit di tanah Jawa. Seluruh kepulauan Nusantara takluk kepada kerajaan Majapahit dan tak luput pula kepulauan "PULAU BESAR" (Natuna sekarang). Pelaut-pelaut Majapahit dalam perjalanannya ke negeri Cina, Siam, Campa, Kamboja dan Annam (Vietnam) selalu menyinggahi "PULAU BESAR" (Natuna sekarang) baik waktu pulang maupun pergi untuk keperluan menambah perbekalan air dan menunggu angin kencang mereda. Pada waktu itu Gugusan "PULAU BESAR" (Natuna sekarang) merupakan pulau yang berhutan lebat, banyak terdapat burung-burung Serindit, sejenis burung Bayan/ Kakatua yang kecil. Oleh karena itulah "PULAU BESAR"   (Natuna   sekarang) berubah   sebutan   menjadi   atau diganti nama menjadi PULAU SERINDIT" (Natuna sekarang) Di pulau ini di beberapa telah ada  penghuninya antara lain Segeram. Seluan dan Setahas. 

Setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis Putra Sultan Mahmud Syah I yaitu Sultan Allaudin Riayat Syah mendirikan Kerajaan Johor pada tahun 1530-1564 M, merupakan kelanjutan dari Kerajaan Malaka. Pada masa pemerintahan beliau menempatkan atau menganngkat Datuk Kaya Datuk Kaya sebagai wakilnya di "PULAU SERINDIT" (Natuna sekarang) yaitu:

  1. Pulau-pulau Jemaja - Datok Amar Lela
  2. Pulau-pulau Siantan - Datok Kaya Dewa Perkasa
  3. Pulau Serindit ( Kemudian Pulau Bunguran ) - Datuk Kaya Inddra Pahlawan
  4. Pulau Sabda (Kemudian Tambelan)-Datuk Kaya Timbalan Siamah.

Pada masa Pemerintahan Sultan Allauddin Riayat Syah III (Th. 1597-1655 M) memerintah di Johor, menurut kisahnya Sultan Johor ini mempunyai seorang Putri yang bernama  "ENGKU PATIMAH” yang sejak kecilnya mengidap sakit lumpuh dan tidak dapat berjalan. Oleh karena sultan merasa malu, maka Sultan mengambil keputusan untuk membuang putrinya,
Secara diam-diam memang sudah dipersiapkan oleh pihak Istana Johor untuk kelengkapan keberangkatan yaitu 7 buah Pejajap (Perahu) dengan segala perlengkapannya, termasuk pengawal serta Inang dayangnya yang kesemuanya berjumlah 40 orang. Setelah persiapan rampung maka bertolaklah Sang Putri ENGKU FATIMAH dengan dibekali sebuah "MAHKOTA".
Setelah berhari - hari mengarungi taut tanpa tujuan sampailah iring-iringan PUTRI ENGKU FATIMAH itu di pulau-pulau Siantan dan mereka mengambil kesempatan untuk beristirahat di pulau-pulau tersebut, Setelah selesai beristirahat mereka segera melanjutkan perjalanannya. Berhari-hari mereka mengarungi lautan dan sampailah iring-iringan PUTRI ENGKU FATIMAH di Tanjung Galing Pulau Sabangmawang, Setelah melihat tempat untuk bermukim kurang memuaskan, mereka memutuskan untuk melanjutkan pelayaran ke Segeram.

Akhirnya iring – iringan PUTRI ENGKU FATIMAH   terdampar  di Kukup (Pulau Pasir) atau jalik di muara Sungai Segeram   Dan dari   sini   mudiklah penjajap -  penjajap itu masuk ke Sungai Segeram dan berlabuh dekat suatu perkampungan. 
Mendengar ketibaan  ENGKU   FATIMAH  Putri  dan   Sultan   Johor  di   Pulau Srindit,   maka   "DATUK   KAYA   INDRA  PAHLAWAN"   berdatang sembah. Mengingat kedatangan sang putri membawa Mahkota Kerajaan yang memerintah dari Sultan Johor, maka dengan senang hati Datuk Kaya Indra PahJawan menyerahkan kekuasaan Sang putri, Penyerahan itu diterima pula dengan senang hati oleh Putri Engku Patimah serta mengajak rakyatnya membangun pemerintahan yang baru. 
Sekitar tahun 1610 Masehi kedatangan Engku Fatimah di “Pulau Serindit” ( Natuna Sekarang ) menurut sejarah di segeram ada seseorang di gelari “ DEMANG MEGAT” yang mana asal usul sebenarnya tidak di ketahui dengan pasti. 
  
Alkisah menceritakan DEMANG MEGAT ini adalah seorang yang hanyut di atas rakit Buluh betung atau Aur, dan rakit tersebut hanyut di bawa arus dan masuk ke Sungai Segeram, di pinggiran sungai segeram banyak terdapat batang Laning dan rakit tersebut sangkut di antara sela – sela kayu, dan dari situlah DEMANG MEGAT berjangkit – jangkit naik ke darat, tubuh megat berbulu di dadanya dan tidak berpakain sebagaimana layaknya. 
Maka bertemulah rombongan Engku Fatimah dengan DEMANG MEGAT di Daerah Segeram tersebut. Pada pertemuan ini DEMANG MEGAT diajak berbahasa Melayu tetapi ia tidak mengerti bahasa Melayu, rupanya DEMANG MEGAT hanya bisa berbahasa Siam dan beragama Budha. kemudian DEMANG. MEGAT di Islamkan oleh para pengikut Putri Engku Patimah serta  dikawinkan dengan Tengku Fatimah dengan tidak ada kemalangan apa-apa, Dalam upacara perkawinan itu Megat diberi gelar “ORANG KAYA SERINDIT DINA MAHKOTA". Adapun maksud dari kata DINA adalah berasal dari keadaan di Engku Fatimah sendiri yang merasa dirinya Hina Dina karena cacat lumpuh serta dibuang oleh ayahandanya Sultan ke PULAU SERINDIT yang jauh dengan dibekali sebuah MAHKOTA KERAJAAN".
Maka sekitar tahun 1610 Masehi sejak kedatangan Engku Fatimah ke PULAU SERINDIT, dan setelah Megat bergelar "ORANG KAYA SERINDIT DINA MAHKOTA", mulailah PULAU SERINDIT berperintahan sendiri dari Kerajaan Johor atas kuasa Engku Fatimah yang berpusat di Segeram. Megat memerintahkan rakyatnya membuat sebuah Mahligai tempai bersemayam Engku Fatimah. Mahligai dibuat dari bahan KAYU BUNGUR maka dari nama KAYU BUNGUR inilah PULAU SERINDIT berganti nama menjadi "PULAU BUNGURAN".
Catatan: Menurut kamus Indonesia karangan WJS Poerwarda-minta bahwa KAYU BUNGUR adalah sejenis kayu yang bunganya berwama ungu.
Berawal dari kebiasaan Pendeta Cina I TSING menyebut Pulau Besar dengan sebutan NAN TOA, "NAN” artinya Pulau, dan "TOA" artinya Besar, inilah kebiasaan berawal. Kebiasaan lidah orang Melayu, NAN TOA ini pun berubah sebutan menjadi "NATUNA" hingga sekarang.

Tertulis dalam sejarah bahwa di Kabupaten Natuna yang dahulunya bernama PULAU TUJUH sebelum bergabung dalam Kepulauan Riau, telah memerintahkan beberapa orang “Tokong Pulau” ( Istilah yang diberikan kepada Datuk Kaya di Wilayah Pulau Tujuh ). Julukan Tokong Pulau yang diberikan kepada Datuk Kaya di Pulau Tujuh mengibaratkan seorang pemimpin yang mengendalikan Pemerintah di wilayah terkecil yang sewaktu itu diberi hak oleh Sultan Riau sesuai dengan ketentuan “Yayasan Adat" yang sudah ada pada masa itu.

Dari keterangan yang diperoleh bahwa gelar yang diberikan di dalam pembagian Wilayah Datuk Kaya Pulau Tujuh disebut sebagai berlkut :
  1. Wilayah Pulau Siantan : Pangeran Paku Negara dan Orang Kaya Dewa Perkasa
  2. Wilayah Pulau Jemaja : Orang Kaya Maha Raja Desa dan Orang Kaya Lela Pahlawan.
  3. Wilayah Pulau Bunguran    :   Orang   Kaya   Dana   Mahkota, dua orang Penghulu dan satu orang Amar Diraja
  4. Wilayah Pulau Subi:   Orang   Kaya   Indra   Pahlawan   dan Orang Kaya Indra Mahkota
  5. Wilayah Pulau Serasan: Orang Kaya Raja Setia dan Orang Setia Raja,
  6. Wilayah Pulau Laut: Orang Kaya Tadbir Raja dan Penghulu Hamba Diraja.
  7. Wilayah Pulau Tambelan : Petinggt dan Orang Kaya Maharaja Lela Setia
Orang-orang besar inilah yang pada zaman dahulu memerintah di wilayah pulau Tujuh dengan masing-masing wilayah secara turun temurun dan sampai pada akhir kekuasaannya.
Oleh karena pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu masih memegang peranan "Zich Bemoelen Met" ikut mencampuri urusan pemerintahan yang menyangkut strateginya di Pulau Tujuh, maka penempatan kedudukan para Datuk Kaya diatur sedemikian rupa dengan menerapkan imperialisme yang bertujuan memecah belah persatuan dan kesatuan di wilayah Pulau Tujuh dan berpegang kepada " Devide et Impera " yang menguntungkan pihak Belanda.
Oleh karena itutah jauh sebelumnya sudah ada ditetapkan seorang penguasa Belanda bernama "Van Kerkhorff pada tahun 1908 di Tanjung Belitung atau di Binjai di depan Pulau Sedanau. Pada masa itu hutan belukar di daerah Binjai dan sekitarnya sangat lebat dan penuh rawa-rawa yang merupakan tempat sarang nyamuk Malaria maka tidak lama kemudian setelah tuan Kerkhorff terkena Malaria lalu pindah ke Sedanau dan tak lama kemudian meninggal dunia, Bermula ditempatkannya tuan Kerkhorff di Tanjung Belitung, mengingat laut di sekitar Tanjung Belitung sangat dalam dan terlindung dari serangan angin Utara,
Berkaitan dengan penempatan Van Kerkhorff mengingatkan kita kepada sejarah perjanjian " Treaty Of London : Tanggal 17 Maret 1842 yang sudah di rintis sebelumnya oleh pemerintah Hindia Belanda bersama sekutunya inggris yang membagi-bagi daerah jajahannya untuk keuntungan mereka yang berkelanjutan di masa depan. Maka itu inggris dan penguasa Belanda mencoba menanamkan pengaruhnya di Asia Tenggara, sampai kepada Kerajaan Riau - Johor mendekati masa suramnya, sehingga wilayah Riau bekas Kerajaan Riau diserahkan kepada Kolonial Belanda sedangkan Singapura dan Johor termasuk semenanjung Malaysia dikuasai Inggris.

 
Sultan Abdul Rahman Al Muazam Syah beserta Tengku Besar Umar langsung dimakzuikan oleh Kompeni Belanda pada tahun 1911 dan pada tahun 1913 dengan resmi Kesultanan Riau Lingga dibubarkan oleh penguasa Belanda dan bertempatan dengan itu berkumpullah seluruh datuk Kaya yang ada dl Riau di gedung tempat kediaman Residen (Gedung Daerah Sekarang} untuk menerima penjelasan-penjelasan dari penguasa Belanda diantaranya menyinggung tentang wilayah Pulau Tujuh mendapat perubahan pembagian wilayah yaitu :

  1. Wilayah Datuk Kaya Pulau Bunguran dibagi dua wilayah yaitu Bunguran Barat dan Bunguran Timur sedangkan Pulau Panjang tersendiri.
  2. Wilayah Datuk Kaya Jemaja di bagi dua, yaitu wilayah Datuk Kaya Ulu Maras dan Kuala Maras. Hasil dari pemecahan wilayah menunjukkan untuk memisah-misahkan puak-puak Melayu yang hidupnya sudah aman dan damai yang telah dibina oleh Datuk Kaya di Pulau Tujuh. 


Awalnya Pulau Bunguran hanya satu buah pulau yang tidak pernah dimekarkan. Kemudian Semenjak Kerajaan Riau Lingga dibubarkan oleh Belanda tepatnya tahun 1913, maka dikumpulkanlah seluruh Datuk Kaya oleb Belanda untuk tugas selanjutnya. Untuk Pulau Bunguran dibagi menjadi dua bagian yaitu Bunguran Barat dan Bunguran Timur. Kemudian setelah menjadi Kabupaten, Pulau Bunguran dimekarkan lagi menjadi Lima Bagian terdiri dari Bunguran Timur, Bunguran Timur Laut, Bunguaran Tengah, Bunguran Barat dan Bunguran Utara.
Sejarah Kabupaten Natuna tidak dapat dipisahkan dari sejarah Kabupaten Kepulauan Riau, karena sebelum berdiri sendiri sebagai daerah otonomi, Kabupaten Natuna merupakan babagian dan Wilayah Kepulauan Riau, Berdasarkan Surat Keputusan Delegasi Repubiik Indonesia, Propinsi Sumatera Tengah tanggal 18 Mei 1956 menggabungkan diri ke dalam Wilayah Republik Indonesia, dan Kepulauan Riau diberi status Daerah Otonomi Tingkat II yang disepakat Bupati sebagai kepala daerah yang membawahl 4 kewedanaan sebagai berikut :
  1. Kewadanaan Tanjung Pinang, Meliputi Kec. Bintan Selatan ( Termasuk Bintan Timur, Galang, Tanjungpinang Barat dan tanjung pinang timur).
  2. Kewadanaan Karimun, meliputi wilayah kecamatan karimun, kundur dan moro.
  3. Kewadanaan Lingga, meliputi wilayah kecamatan Lingga, singkep dan Senayang.
  4. Kewadaan Pulau Tujuh, meliputi wilayah kecamatan Jemaja, Siantan, Midai, Serasan, Tembelan, Bunguran Barat dan Bunguran Timur. 

Kewedanaan Pulau Tujuh yang membawahi Kecamatan Jemaja, Siantan, Midai, Serasan, Tambelan, Bunguran Barat dan Bunguran Timur beserta kewedanaan lainnya dihapus berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Riau tanggal 9 Agustus 1964 No. UP/247/5/1965. Berdasarkan ketetapan tersebut, terhitung 1 Januari 1966 semua daerah administrative kewedanaan dalam Kabupaten Kepulauan Riau dihapus.

seiring    dengan    semangat    Otonomi    Daerah    maka terbentuklah  "KABUPATEN          NATUNA"berdasarkan UU No: 53 Th 1999, Tanggal 12 Oktober 1999 dari hasil pemekaran Kabupeten Kepulauan Riau yang terdiri dari Enam Kecamatan yaitu ; Kecamatan Bunguran Timur, Bunguran Barat, Midai, Jemaja, Siantan, Serasan.



Sedangkan Tambelan yang dahulunya masih tergabung dalam wilayah Pulau Tujuh harus memisahkan diri karena pembagian wilayah termasuk ke dalam wilayah Tanjungpinang. Seiring dengan kewenangan Otonomi Daerah, Kabupaten Natuna kemudian melakukan pemekaran daerah Kecamatan, yang hingga tahun 2004 menjadi 10 kecamatan dengan penambahan, Kecamatan Palmatak, Subi, Bunguran Utara, dan Pulau Laut.
 

PUSAT PEMERINTAHAN Dl WILAYAH PULAU TUJUH

ZAMAN HINDIA BELANDA Dl SEDANAU

KEPALA PEMERINTAHAN YANG PERNAH MENJABAT

SEBAGAI CONTROLEUR, AMIR, POSTHOUDER DAN

TO - CHO WILAYAH NATUNA
Yang Menjabat Sebagai Amir
 
 


Yang Menjabat Sebagai
TO - CHO : ( Wakil Belanda )
Sedanau : 01 Oktober 1944
STEL'M : WAN ISMAIL BIN WAN HAJI MOEHD.ISA
ONDERDISTRICT HOOFD
VAN BOENGORAN BARAT